Jakarta, MI – Raksasa teknologi pembayaran global Visa Inc. memangkas sekitar 2.600 karyawan atau sekitar 7% dari total tenaga kerjanya sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan yang dipimpin CEO Ryan McInerney. Langkah tersebut diambil untuk meningkatkan efisiensi di tengah persaingan industri pembayaran digital yang semakin ketat.
Pemangkasan tenaga kerja terutama menyasar divisi produk dan teknologi, dua unit yang selama ini menjadi tulang punggung pengembangan layanan Visa. Kebijakan tersebut diumumkan melalui memo internal yang disampaikan langsung oleh McInerney kepada para karyawan.
Dalam keterangannya, McInerney menegaskan restrukturisasi dilakukan agar perusahaan dapat mengalihkan sumber daya ke sektor-sektor yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan lebih besar.
"Saya sangat yakin bahwa kami sedang melakukan hal yang tepat bagi Visa, klien, dan mitra kami, seiring kami terus berfokus pada peningkatan efisiensi di seluruh perusahaan guna menginvestasikan kembali dana tersebut ke peluang-peluang dengan potensi tertinggi," ujar McInerney.
Langkah efisiensi ini dilakukan menjelang pengumuman laporan keuangan kuartalan Visa di pasar Amerika Serikat. Hingga akhir tahun fiskal terakhir, perusahaan tercatat memiliki sekitar 34.100 karyawan, meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan satu dekade lalu.
Keputusan memangkas ribuan pekerja menambah daftar perusahaan teknologi global yang melakukan restrukturisasi organisasi sepanjang 2026. Sejumlah perusahaan besar sebelumnya juga mengambil langkah serupa untuk menekan biaya operasional sekaligus mempercepat transformasi bisnis di tengah perubahan lanskap industri dan meningkatnya pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Meski melakukan pengurangan tenaga kerja, Visa menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga daya saing perusahaan sekaligus memperkuat investasi pada bidang-bidang yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan paling tinggi.**
