Jakarta, MI — Modal asing terus mengalir keluar dari pasar saham Indonesia, sementara di jantung ibu kota, pusat-pusat perbelanjaan justru sibuk membentengi diri dengan pagar besi tinggi.
Dua peristiwa yang terjadi hampir bersamaan ini memunculkan tanda tanya besar: apakah negara sedang menghadapi krisis kepercayaan ganda—dari pasar modal global dan dari rasa aman warganya sendiri?
Asing Terus Kabur, Bank BUMN Jadi Sasaran
Tekanan jual investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) belum juga mereda. Pada sesi pertama perdagangan Senin (3/8/2026), investor asing membukukan jual bersih Rp363,53 miliar, membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nyaris tak berkutik di level 6.234,29, turun tipis 1,83 poin.
Kondisi ini melanjutkan tren sepekan sebelumnya. Dalam lima hari perdagangan, investor asing tercatat melepas saham senilai Rp3,38 triliun, memaksa IHSG kembali terjerembab ke zona merah di level 6.185,783.
Saham-saham bank pelat merah menjadi target utama pelepasan: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dijual bersih Rp72,81 miliar dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp68,94 miliar, disusul sejumlah emiten besar lain seperti TPIA, AMMN, BRPT, hingga ASII.
Data BEI juga mencatat, tanpa topangan pembelian investor domestik yang menyumbang hampir 69 persen dari total nilai transaksi, tekanan terhadap IHSG kemungkinan akan jauh lebih dalam.
Pasar modal Indonesia untuk sementara masih bertahan berkat investor lokal, bukan karena derasnya minat investor global.
Mal Pasang Pagar Tinggi, Apindo Akui Gelap Informasi
Di tengah gejolak pasar modal, fenomena lain justru mencuri perhatian publik Jakarta: sejumlah pusat perbelanjaan mendadak memasang pagar besi tinggi mengelilingi areanya. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengaku pihaknya belum mendapat penjelasan resmi dari para pemilik mal soal alasan di balik langkah tersebut.
"Kemungkinan lebih kepada alasan keamanan," kata Shinta di Jakarta, sembari menambahkan bahwa ia belum sempat berbicara langsung dengan para pemilik mal dan menduga kebijakan itu merupakan langkah antisipasi masing-masing pengelola gedung.
Fenomena ini turut mengundang reaksi dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, yang meminta agar pagar-pagar yang baru dipasang atau ditinggikan di sejumlah mal dan perkantoran segera dibongkar.
Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan kekhawatiran berlebihan terhadap situasi keamanan ibu kota, padahal ruang publik semestinya tetap terbuka dan nyaman diakses masyarakat.
"Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan akan berkoordinasi dengan pengelola gedung agar kebijakan keamanan tidak mengorbankan keterbukaan ruang kota," kata Pramono Anung.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dan transparan dari para pengelola mal soal alasan spesifik di balik pemasangan pagar tersebut, sehingga spekulasi di tengah masyarakat terus berkembang.**
