Jakarta, MI - Harga minyak kembali menguat di tengah ketidakpastian nasib Selat Hormuz. Pasar masih menimbang peluang Iran dan Oman membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut, sementara ancaman serangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat.
Harga minyak Brent bertahan di atas US$84 per barel setelah melonjak lebih dari 5% dalam tiga sesi sebelumnya. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$79 per barel.
Perhatian pasar tertuju pada pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang menyebut kesepakatan dengan Oman untuk membentuk rute pelayaran melalui Selat Hormuz sudah "sangat dekat".
Namun, kabar tersebut belum cukup untuk meredakan kekhawatiran pasar. Araghchi menegaskan kesepakatan yang tercapai nantinya tidak otomatis membuat jalur pelayaran di Hormuz langsung kembali terbuka.
Iran juga belum bersedia membuka pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat. Araghchi menyebut langkah itu masih terkendala pelanggaran terhadap kesepakatan damai sementara yang dicapai pada Juni.
Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump justru mulai menurunkan tensi. Kepada Axios pada Minggu, Trump mengatakan AS kini "mengurangi tekanannya" terhadap Iran.
Sikap ini muncul setelah berminggu-minggu Trump mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran.
Meski tensi diplomatik mulai sedikit mereda, risiko eskalasi di Timur Tengah belum hilang. Bahkan, ancaman baru kembali muncul di jalur energi utama dunia.
Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim telah menyerang kilang minyak Jazan di Arab Saudi, yang berada di dekat Laut Merah.
Tak hanya itu, kapal tanker yang dioperasikan Abu Dhabi National Oil Co. juga menjadi sasaran di kawasan Selat Hormuz pada akhir pekan.
Bagi pasar minyak, perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa gangguan pasokan energi belum sepenuhnya berakhir. Selama keamanan Selat Hormuz dan jalur distribusi minyak di kawasan masih terancam, harga minyak berpotensi tetap berada di bawah tekanan geopolitik.
