Yala, MI– Situasi keamanan di Thailand Selatan kembali memanas. Enam anggota polisi patroli perbatasan terluka setelah menjadi sasaran serangan bom dan penembakan oleh kelompok bersenjata di Kabupaten Thanto, Provinsi Yala, Jumat (19/6/2026).
Dua dari enam personel yang menjadi korban dilaporkan mengalami luka serius dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Serangan terjadi saat regu patroli keamanan menjalankan tugas rutin di wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah rawan konflik di Thailand Selatan. Menurut keterangan otoritas setempat, para pelaku lebih dahulu meledakkan bom rakitan yang dipasang di pinggir jalan sebelum melancarkan tembakan dari arah semak-semak ke arah petugas.
Ledakan dan rentetan tembakan membuat aparat yang berada di lokasi langsung melakukan upaya penyelamatan dan evakuasi terhadap korban.
Pasca-serangan, aparat keamanan Thailand bergerak cepat dengan mengerahkan satuan tugas gabungan yang terdiri dari tim penjinak bom dan tim forensik untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Kepala Kepolisian Provinsi Yala memerintahkan seluruh personel yang bertugas di lokasi meningkatkan kewaspadaan karena dikhawatirkan masih terdapat bahan peledak lain atau kemungkinan serangan susulan yang telah disiapkan pelaku.
Lokasi kejadian langsung disterilkan dan ditutup untuk kepentingan penyelidikan. Sementara itu, pasukan keamanan gabungan melakukan pengejaran terhadap kelompok yang diduga bertanggung jawab atas aksi tersebut.
Hingga Sabtu (20/6/2026), belum ada kelompok yang mengklaim berada di balik serangan tersebut. Aparat keamanan Thailand masih mengumpulkan bukti dan mendalami motif serangan yang menargetkan petugas negara itu.
Insiden ini kembali menunjukkan rapuhnya situasi keamanan di kawasan Thailand Selatan yang dalam beberapa tahun terakhir masih kerap diwarnai aksi kekerasan bersenjata, pengeboman, dan serangan terhadap aparat keamanan maupun warga sipil.
Pemerintah Thailand kini menghadapi tekanan untuk memperkuat pengamanan di wilayah perbatasan dan daerah konflik guna mencegah terulangnya serangan serupa yang berpotensi menimbulkan korban lebih besar.**

