Teheran, MI– Konflik terbuka antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke dua pangkalan udara militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait sebagai aksi balasan atas serangan Washington terhadap fasilitas militer Iran.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut serangan menyasar Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain serta Pangkalan Udara Ali al-Salem di Kuwait. Iran mengklaim operasi tersebut berhasil menghancurkan sejumlah gudang senjata, fasilitas logistik, hingga drone tempur MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat.
"Selama operasi menggunakan rudal dan drone, beberapa gudang senjata serta suku cadang kapal dan pesawat musuh dihancurkan di Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain. Lokasi penyimpanan drone MQ-9 di Pangkalan Udara Ali al-Salem di Kuwait juga diserang sehingga sejumlah drone hancur dan rusak," demikian pernyataan IRGC yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRIB.
Teheran menegaskan operasi militer tersebut merupakan respons langsung atas serangan AS terhadap sejumlah fasilitas militer Iran di wilayah selatan. Namun hingga kini, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan konfirmasi ataupun tanggapan resmi terkait klaim kerusakan yang disampaikan Iran.
Eskalasi konflik itu terjadi setelah pasukan Iran dan Amerika dilaporkan terlibat baku tembak di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Bentrokan tersebut memicu serangkaian ledakan di Bandar Abbas, sejumlah kota pesisir, dan beberapa pulau di Provinsi Hormozgan.
Media pemerintah Iran melaporkan ledakan juga terdengar di wilayah timur Sirik yang berada di sekitar kawasan Teluk Persia. Peristiwa itu memperlihatkan semakin meluasnya arena konfrontasi militer antara kedua negara.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militernya bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Washington juga menegaskan blokade terhadap kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran masih terus berlangsung.
"Pasukan Amerika tetap waspada, mematikan, dan siap menjalankan setiap misi yang diperlukan," tegas CENTCOM.
Sebagai bagian dari penguatan operasi di kawasan, Amerika Serikat telah mengerahkan lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut beserta ratusan pesawat tempur ke Timur Tengah. Langkah tersebut menunjukkan konflik tidak lagi terbatas pada perang pernyataan, melainkan telah berkembang menjadi konfrontasi militer yang berpotensi memperluas instabilitas regional.
Jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi, eskalasi Iran-AS dikhawatirkan akan semakin mengganggu keamanan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi penghubung utama distribusi minyak dan gas dunia.**
