Teheran, MI – Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan militer terhadap Iran dengan melancarkan gelombang serangan udara yang menyasar sejumlah infrastruktur strategis di berbagai wilayah negara itu. Bandara, stasiun kereta api, hingga dua jembatan penting di dekat Selat Hormuz menjadi target dalam serangan yang berlangsung pada Jumat (17/7/2026).
Media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan sedikitnya tiga ledakan mengguncang kawasan sekitar Bandara Iranshahr di tenggara Iran setelah proyektil yang disebut berasal dari militer Amerika menghantam area tersebut.
Tak hanya itu, serangan juga menyasar Stasiun Persimpangan Kereta Api Bandar Abbas, kota pelabuhan utama Iran yang memiliki peran penting dalam jalur logistik nasional.
"Beberapa menit yang lalu, Stasiun Persimpangan Kereta Api Bandar Abbas menjadi sasaran musuh Amerika. Dua warga Iran dilaporkan terluka dalam serangan itu," demikian laporan kantor berita Mehr.
Serangan berikutnya menghantam dua jembatan di Provinsi Hormozgan, wilayah yang berada di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi distribusi energi dunia. Berdasarkan laporan media resmi Iran, serangan tersebut mengakibatkan sedikitnya dua orang tewas dan empat lainnya mengalami luka-luka.
Di sisi lain, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa operasi militer terhadap Iran terus berlanjut. Washington menyebut serangan terbaru merupakan bagian dari gelombang operasi malam kelima secara berturut-turut yang ditujukan untuk mengurangi kemampuan militer Iran.
"Pasukan Amerika memulai gelombang serangan baru terhadap Iran untuk malam kelima berturut-turut guna semakin melemahkan kemampuan militer Iran," demikian pernyataan CENTCOM.
Rangkaian serangan tersebut menandai eskalasi terbaru dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Dengan sasaran yang kini meluas ke infrastruktur transportasi strategis, ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkat, terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran internasional akan potensi meluasnya konflik dan dampaknya terhadap stabilitas keamanan kawasan maupun rantai pasok energi global.**
