BREAKINGNEWS

Sidang Kredit Sritex Bongkar Mega Skandal: 28 Bank dan Investor BEI Dibobol, Eks Direktur Bank DKI Babay “Tumbal”?

Eks Direktur Bank DKI Babay
Mantan Direktur Bank DKI, Babay Farid Wazdi (Foto: Istimewa)

Jakarta, MI - Di balik persidangan kasus kredit PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri Semarang, muncul dugaan skandal yang jauh lebih besar dan mengguncang. Bukan sekadar perkara kredit bermasalah, tetapi dugaan pembobolan sistem keuangan yang melibatkan 28 bank serta investor di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sorotan tajam mengarah kepada pemilik dan pengelola Sritex yang diduga berada di balik skema tersebut. Dugaan praktik yang disebut-sebut bersifat terstruktur dan sistematis ini bahkan telah dilaporkan secara resmi oleh Lembaga Bantuan Hukum & Advokasi Publik PP Muhammadiyah (LBH & AP PP Muhammadiyah) ke Bareskrim Polri pada Jumat (6/3/2026).

Ketua LBH & AP PP Muhammadiyah, Taufiq Nugroho, menyebut dugaan adanya sindikat pembobol bank dan investor pasar modal ini bukan perkara biasa. Jika benar, dampaknya tidak hanya merugikan lembaga keuangan, tetapi juga berpotensi mengguncang kepercayaan publik terhadap sistem perbankan nasional.

Ironisnya, dalam pusaran perkara ini justru muncul nama sejumlah bankir dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang disebut-sebut tidak mengetahui praktik dugaan pembobolan tersebut. Salah satu yang kini duduk di kursi terdakwa adalah mantan Direktur Bank DKI, Babay Farid Wazdi.

Bagi banyak pihak, nama Babay justru dikenal sebagai bankir profesional dengan rekam jejak kinerja yang kuat. Lulusan Business Management di International University of Japan (2010–2011) itu sebelumnya memilih kembali ke Indonesia untuk mengabdikan diri di sektor perbankan nasional.

Selama berkarier di Bank DKI, Babay tercatat membawa lonjakan kinerja yang signifikan. Aset bank meningkat sekitar Rp25 triliun, dari Rp53 triliun pada 2018 menjadi Rp78 triliun pada 2022. Di saat yang sama, rasio kredit bermasalah (NPL gross) berhasil ditekan hingga 1,75 persen, yang disebut sebagai salah satu yang terendah dalam sejarah Bank DKI.

Rekam jejak positif itu berlanjut saat Babay menjabat di Bank Sumut. Di sana, ia kembali mencetak kinerja mencolok dengan peningkatan aset sekitar Rp5 triliun. Laba bank bahkan menembus Rp740 miliar pada 2023 dan meningkat menjadi Rp741 miliar pada 2024, yang disebut sebagai capaian laba tertinggi sepanjang sejarah Bank Sumut.

Namun kini, reputasi tersebut seperti runtuh seketika. Babay harus mengenakan rompi tahanan dalam perkara kredit Sritex yang oleh sebagian pihak justru dinilai sarat kejanggalan. Banyak kalangan mempertanyakan apakah kasus ini murni penegakan hukum atau justru ada upaya “menumbalkan” bankir daerah dalam skema yang jauh lebih besar.

“Kami telah melaporkan dugaan adanya sindikat pembobol 28 bank dan investor pasar saham ke Bareskrim Polri. LBH & AP PP Muhammadiyah juga berkomitmen memberikan pendampingan hukum kepada Babay Farid sebagai pihak yang terdampak dalam perkara ini,” ujar Taufiq, Sabtu (7/3/2026).

Desakan Usut Tuntas

LBH & AP PP Muhammadiyah menegaskan bahwa kasus ini tidak boleh berhenti pada penetapan terdakwa semata. Jika dugaan skema pembobolan bank dan manipulasi sistem keuangan benar terjadi, maka aparat penegak hukum harus berani menelusuri hingga aktor utama di baliknya.

“Persoalan ini tidak bisa dianggap sederhana. Jika ada pola yang terstruktur dan sistematis, maka ini ancaman serius bagi kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan,” kata Taufiq.

Menurutnya, pelaporan ke Bareskrim dilakukan karena kompleksitas perkara serta potensi dampaknya yang luas terhadap sistem perbankan dan pasar modal nasional.

Ia menegaskan, tidak boleh ada ruang impunitas bagi pelaku kejahatan di sektor keuangan, terlebih jika melibatkan jaringan besar yang memanfaatkan celah sistem perbankan.

“Aparat penegak hukum harus bekerja objektif, profesional, dan independen. Jika ada pihak yang dijadikan korban atau dikorbankan, hak-haknya harus dipulihkan sesuai hukum,” tegasnya.

LBH & AP PP Muhammadiyah juga mengingatkan publik agar tetap kritis namun tidak terprovokasi, sembari memberikan ruang bagi aparat penegak hukum untuk bekerja.

“Kasus ini akan kami kawal sampai terang benderang. Jangan sampai kejahatan besar di sektor keuangan justru berakhir dengan menyalahkan pihak yang bukan aktor utama,” pungkas Taufiq.

Topik:

Adelio Pratama

Penulis

Video Terbaru