BREAKINGNEWS

Cargo Boncos, Utang Anak Usaha Garuda Meledak

Garuda Indonesia
Garuda Indonesia. (Dok Istimewa)

Jakarta, MI - Kinerja bisnis perusahaan logistik milik grup maskapai pelat merah kembali disorot. Audit menemukan PT Aero Jasa Cargo (AJC) perusahaan freight forwarding yang berdiri sejak 2003 tak pernah mampu menutup biaya operasionalnya dengan pendapatan usaha selama hampir dua dekade beroperasi.

Perusahaan yang merupakan anak usaha PT Aero Wisata itu terus mencatat kerugian sejak berdiri hingga laporan keuangan 2022.

AJC sendiri berada dalam ekosistem bisnis Garuda Indonesia, karena Aero Wisata merupakan anak usaha maskapai BUMN tersebut.

Temuan audit menunjukkan, beban operasional perusahaan secara konsisten lebih besar dibandingkan pendapatan yang dihasilkan. Bahkan dalam empat tahun terakhir saja, kerugian perusahaan selalu berada di kisaran Rp25 miliar hingga Rp30 miliar per tahun.

Rinciannya, rugi bersih AJC pada 2019 tercatat sekitar Rp30,35 miliar, kemudian Rp24,18 miliar pada 2020, Rp29,91 miliar pada 2021, dan Rp25,64 miliar pada 2022.

Salah satu sumber utama kerugian berasal dari biaya logistik, khususnya biaya pengiriman udara berupa Air Way Bill (AWB) yang dibayarkan kepada Garuda Indonesia.

Selama empat tahun terakhir, biaya logistik tersebut mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah setiap tahun. Pada 2021 misalnya, biaya logistik tercatat menembus Rp112,8 miliar, sebelum turun menjadi sekitar Rp93,7 miliar pada 2022.

Ketergantungan pada layanan pengiriman udara milik induk usaha ini membuat biaya operasional AJC terus membengkak dan menjadi faktor utama kerugian perusahaan

Modal Minus, Utang Menumpuk

Kondisi keuangan AJC juga memperlihatkan tekanan berat pada struktur permodalan. Dalam periode 2019 hingga 2022, nilai liabilitas jangka pendek perusahaan selalu jauh lebih besar dibandingkan aset lancarnya.

Pada 2022 misalnya: Aset lancar: Rp36,14 miliar, Liabilitas jangka pendek: Rp155,48 miliar, Defisiensi modal: minus Rp120,37 miliar. Artinya, perusahaan berada dalam posisi modal negatif selama beberapa tahun terakhir.

Selain itu, data sistem keuangan menunjukkan utang usaha pihak berelasi mencapai Rp103,77 miliar, sementara utang yang sudah berumur lebih dari satu tahun mendekati Rp98,48 miliar.

Untuk menutup beban operasional, AJC juga sempat memperoleh dana talangan dari PT Aero Wisata sebesar Rp19,98 miliar. Namun hingga akhir 2023 masih tersisa pinjaman sekitar Rp10 miliar yang belum dilunasi.

Rasio keuangan perusahaan juga menunjukkan tekanan likuiditas serius. Rasio likuiditas selama 2020–2022 berada di bawah 1, yang menandakan perusahaan kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendek.

Sementara rasio solvabilitas di atas 1 menandakan kondisi utang perusahaan sudah berada pada tingkat yang bermasalah.

Di tengah kondisi keuangan yang lemah, AJC justru mendapat sejumlah kebijakan khusus dari Garuda Indonesia untuk menjaga operasional bisnis.

Salah satu kebijakan itu adalah relaksasi pembayaran pengiriman cargo dengan skema Term of Payment (ToP) hingga 180 hari untuk layanan KirimAja dan 90 hari untuk segmen korporasi.

Padahal dalam aturan internal Garuda, transaksi cargo seharusnya menggunakan sistem deposit terlebih dahulu sebelum reservasi.

Audit juga menemukan sistem ICMS Cargo Flash milik Garuda diatur secara manual agar AJC tetap dapat melakukan transaksi. Unit treasury bahkan menginput limit deposit fiktif Rp999,9 miliar dalam sistem meski saldo sebenarnya di virtual account perusahaan nol rupiah.

Selain itu, akun agen AJC tetap aktif di sistem meski perusahaan belum melunasi tagihan dan tidak memiliki deposit sebagaimana diwajibkan bagi agen lain.

Piutang Macet Puluhan Miliar akibat berbagai relaksasi tersebut, Garuda justru menanggung risiko keuangan baru.

Per Desember 2023, piutang Garuda dari kerja sama dengan AJC tercatat Rp126,86 miliar, dengan piutang macet mencapai Rp90,97 miliar.

Untuk mengatasi masalah tersebut, kedua pihak menyepakati rencana pembayaran hingga Juni 2025. Namun hingga November 2023, pembayaran yang terealisasi baru sekitar Rp6,43 miliar.

Minim Evaluasi

Audit juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap keberlangsungan bisnis perusahaan ini.

Evaluasi terhadap kinerja AJC oleh manajemen induk disebut hanya dilakukan secara lisan, tanpa kajian menyeluruh mengenai kelayakan usaha perusahaan yang terus merugi selama hampir dua dekade.

Padahal regulasi penataan anak usaha BUMN mewajibkan dilakukan review atas kelangsungan usaha perusahaan yang berkinerja buruk.

Manajemen Garuda menyatakan kondisi keuangan AJC mulai membaik. Menurut perusahaan, margin keuntungan bersih terus meningkat dan pada 2023 (unaudited) AJC disebut telah mencatat laba sekitar Rp1,7 miliar.

Perusahaan juga berencana mengajukan restrukturisasi pembayaran utang agar dapat memenuhi kewajiban kepada Garuda dan entitas grup lainnya.

Auditor merekomendasikan agar manajemen Garuda Indonesia melalui mekanisme RUPS menginstruksikan PT Aero Wisata untuk: mengevaluasi kemampuan AJC menghasilkan pendapatan yang menutup biaya operasional, menilai kembali kelangsungan usaha perusahaan, serta memperkuat pengawasan operasional sesuai prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

Tanpa evaluasi menyeluruh, perusahaan logistik yang dibentuk sejak 2003 itu berisiko terus menjadi beban keuangan dalam ekosistem bisnis Garuda.

Topik:

Didin Alkindi

Penulis

Video Terbaru

Cargo Boncos, Utang Anak Usaha Garuda Meledak | Monitor Indonesia