BREAKINGNEWS

Tekanan Balik di Balik Damai Rismon–Jokowi

Refly Harun
Koordinator Troya, Refly Harun. (Dok Istimewa)

Jakarta, MI - Langkah Rismon Sianipar memilih berdamai dengan mantan Presiden Joko Widodo dan meminta penyelesaian melalui restorative justice (RJ) memantik tanda tanya di internal kelompok pengkritiknya sendiri.

Koordinator Troya, Refly Harun, menduga keputusan itu bukan sekadar kehendak pribadi, melainkan dipicu tekanan balik yang diarahkan kepada Rismon.

Refly mengungkapkan, pihaknya sempat mencoba memastikan langsung kepada Rismon Sianipar apakah permintaan RJ benar-benar muncul dari kesadaran pribadi atau karena ia berada dalam posisi terpojok.

“Kemarin pagi saya WA lagi, Mon minta RJ itu kehendak bebas dari Rismon atau karena Rismon terpojok dengan laporan soal ijazah Jepang atau ada hal lain, karena ini menjelang kita press conference di Polda Metro agar jangan sampai kita mengambil tindakan gegabah,” kata Refly kepada wartawan, Jumat (13/3/2026).

Namun pesan WhatsApp tersebut hanya berstatus centang satu dan telepon kepada Rismon tidak tersambung.

Meski demikian, Refly mengaku sempat berkomunikasi dengan pengacara yang disebut dekat dengan Rismon, Jahmada Girsang. Dalam percakapan itu, Jahmada menjelaskan adanya dorongan dari keluarga agar polemik yang menyeret Rismon segera diakhiri.

“Rismon dekat dengan lawyer yang kita ketahui memfasilitasi, ikut ke Solo, namanya Jahmada Girsang. Melalui telepon dia menjelaskan Rismon ada aspirasi dari keluarga yang menginginkan kasusnya selesai,” ujar Refly.

Namun Refly menilai penjelasan tersebut belum menjawab sepenuhnya alasan perubahan sikap Rismon. Ia menduga ada tekanan lain yang muncul setelah Rismon dilaporkan atas dugaan ijazah palsu dari Yamaguchi University, Jepang.

Menurutnya, laporan tersebut dilayangkan oleh pendukung Jokowi dan kemudian dimanfaatkan untuk menyerang balik posisi Rismon.

“Rismon menghadapi pelaporan terhadap dirinya, pertama dugaan ijazah palsu dari universitas di Jepang, Yamaguchi University, dan ada semacam keterangan surat kematian yang dibuat orang lain. Itulah yang kemudian dieksploitasi relawan yang selama ini sangat kencang membela kepentingan Pak Jokowi,” jelas Refly.

Situasi itu, kata dia, bisa saja menjadi faktor yang membuat Rismon memilih menarik diri dari barisan pengkritik yang sebelumnya juga diisi oleh Roy Suryo dan Tifa.

Meski begitu, Refly menegaskan proses perdamaian melalui restorative justice tidak serta-merta dapat dilakukan begitu saja.

Ia mengingatkan bahwa ada prosedur hukum yang harus dilalui, apalagi pernyataan Rismon sebelumnya sudah masuk dalam gugatan citizen lawsuit sebagai keterangan ahli di bawah sumpah.

“Kalau kita mau menegakkan hukum restorative justice tidak semudah itu. Ada prosedur yang harus dilalui. Apa yang disampaikan Rismon di citizen lawsuit juga tidak mudah dicabut kembali karena itu keterangan ahli di bawah sumpah,” ujarnya.

Perubahan sikap Rismon yang sebelumnya keras mengkritik Jokowi kini justru memicu spekulasi baru: apakah ini murni langkah damai, atau justru hasil dari tekanan hukum yang berbalik arah.

Topik:

Didin Alkindi

Penulis

Video Terbaru