Jakarta, MI - Polemik dugaan intimidasi dalam perkara hukum yang menjerat videografer Amsal Christy Sitepu memunculkan dua narasi yang saling berseberangan.
Di satu sisi, Kejaksaan Agung (Kejagung) membantah keras adanya tekanan. Di sisi lain, Amsal bersikukuh bahwa dirinya sempat “dipesan” agar tidak bersuara.
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Anang Supriata, menegaskan bahwa jaksa tidak pernah melakukan intimidasi terhadap Amsal. Ia menyebut tudingan tersebut sebagai klaim sepihak yang tidak disertai bukti.
“Intimidasi itu berarti menekan atau mengancam. Berdasarkan keterangan Kepala Kejaksaan Negeri, jaksa tidak pernah melakukan intimidasi,” ujar Anang kepada wartawan dikutip Sabtu (4/4/2026).
Anang bahkan menantang Amsal untuk membuktikan tuduhannya. Jika benar terjadi tekanan, ia mempersilakan untuk melaporkan ke pengawasan internal Kejagung.
“Kalau ada bukti atau saksi, silakan dilaporkan ke Jamwas,” katanya.
Sorotan juga mengarah pada pemberian brownies cokelat yang disebut Amsal sebagai bentuk pesan terselubung. Namun, Kejagung membantah hal itu sebagai bentuk intimidasi. Menurut Anang, pemberian tersebut merupakan bagian dari program “Jaksa Humanis” dan tidak hanya diberikan kepada Amsal.
“Itu bukan khusus. Beberapa terdakwa lain juga menerima,” tegasnya.
Di sisi lain, Amsal memaparkan pengalaman berbeda. Dalam rapat bersama Komisi III DPR RI, ia mengaku mendapat tekanan langsung saat berada di rumah tahanan. Ia menyebut pemberian brownies disertai pesan agar dirinya tidak lagi mempublikasikan konten di media sosial.
“Sudah ikuti saja alurnya. Tidak usah ribut-ribut, tutup konten-konten itu,” ujar Amsal menirukan pesan yang diterimanya.
Alih-alih tunduk, Amsal mengaku menolak tekanan tersebut. Ia bahkan mengangkat dugaan intimidasi itu dalam pleidoi di persidangan.
Kasus yang menjerat Amsal sendiri berkaitan dengan dugaan mark-up anggaran pembuatan video untuk 20 desa di Kabupaten Karo. Jaksa menilai terdapat penggelembungan biaya dalam sejumlah komponen pekerjaan seperti ide dan editing.
Namun, Amsal melihat perkara ini lebih dari sekadar persoalan hukum. Ia menyebut dirinya sebagai bagian dari pekerja ekonomi kreatif yang berhadapan dengan tekanan aparat.
“Biarkan saya jadi yang terakhir. Ini suara anak-anak muda yang berani bersuara meski ditekan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan tidak akan mundur menghadapi proses hukum yang berjalan.
“Saya tidak takut. Saya tidak salah,” katanya.
Perbedaan narasi antara aparat penegak hukum dan terdakwa ini kini menjadi sorotan publik. Di tengah klaim bantahan dan tudingan tekanan, pembuktian di ruang sidang menjadi penentu: apakah “brownies” sekadar simbol empati, atau justru pesan yang dipersepsikan sebagai tekanan.

