Rekening “Bayangan” di Bea Cukai: KPK Bongkar Jejak Uang dan Dugaan Main Mata Jalur Impor
.webp)
Jakarta, MI – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai menguak pola tersembunyi dalam kasus dugaan korupsi importasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.
Bukan sekadar suap biasa, penyidik kini menelusuri penggunaan rekening “nominee” yang diduga menjadi kantong penampung aliran dana dari pihak swasta.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengungkapkan praktik ini melibatkan pihak-pihak tertentu di lingkungan Bea Cukai. Rekening atas nama pihak lain diduga sengaja digunakan untuk menyamarkan jejak transaksi.
“Masih terus kami dalami terkait penggunaan nominee, yang diduga untuk menampung penerimaan uang dari pihak swasta,” ujar Budi di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026).
Pengusutan tak berhenti di aliran dana. KPK juga mendalami hasil penggeledahan, termasuk temuan di sebuah safe house di Jakarta Selatan yang diduga menjadi lokasi penyimpanan atau pengelolaan uang.
Sejumlah pengusaha, khususnya dari sektor rokok, mulai rutin diperiksa. Penyidik menelusuri perusahaan mana saja yang diduga menyetor uang kepada oknum Bea Cukai demi kelancaran bisnis impor mereka.
Kasus ini mengarah pada dugaan permainan dalam sistem pengawasan impor. Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, mengungkap adanya kesepakatan antara pejabat Bea Cukai dan pihak swasta pada Oktober 2025.
Kesepakatan itu diduga bertujuan mengatur jalur masuk barang impor. Dalam aturan, terdapat dua jalur utama: jalur hijau (tanpa pemeriksaan fisik) dan jalur merah (dengan pemeriksaan ketat).
Namun, sistem ini diduga dimanipulasi. Seorang pegawai disebut menerima perintah untuk menyesuaikan parameter jalur merah hingga menyusun aturan dengan tingkat tertentu, yang membuka celah pengaturan barang impor.
Tujuh Tersangka, Dua Kubu
Hingga kini, KPK telah menetapkan tujuh tersangka yang berasal dari dua kubu: pejabat Bea Cukai dan pihak swasta.
Dari internal Bea Cukai:
• Rizal, Direktur Penindakan dan Penyidikan DJBC (2024–Januari 2026)
• Sisprian Subiaksono, Kasubdit Intelijen P2 DJBC
• Orlando, Kasi Intel DJBC
• Budiman Bayu Prasojo, Kasi Intelijen Cukai
Dari pihak swasta:
• Jhon Field, pemilik PT Blueray
• Andri, Ketua Tim Dokumen Importasi PT Blueray
• Dedy Kurniawan, Manajer Operasional PT Blueray
KPK menegaskan, penyidikan masih berkembang. Fokus saat ini bukan hanya pada pelaku, tetapi juga pada pola kejahatan mulai dari penggunaan rekening nominee, pengaturan jalur impor, hingga kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Kasus ini membuka dugaan bahwa sistem pengawasan impor yang seharusnya menjadi benteng negara, justru dimanfaatkan sebagai ladang transaksi tersembunyi.
Topik:
