Waskita Karya Rugi Rp678,03 Miliar 2026, Ada Apa?

Jakarta, MI - PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) mencatat kenaikan pendapatan yang cukup tajam pada kuartal I-2026, namun lonjakan tersebut belum mampu mengangkat perseroan dari jerat kerugian yang masih besar akibat tingginya beban keuangan dan biaya produksi.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, emiten konstruksi pelat merah ini membukukan pendapatan usaha sebesar Rp2,09 triliun, melonjak 54,81% dibandingkan Rp1,35 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, di balik pertumbuhan itu, struktur biaya yang berat membuat kinerja bottom line tetap tertekan.
Beban pokok pendapatan ikut melonjak menjadi Rp1,92 triliun dari sebelumnya Rp1,09 triliun. Kondisi ini memangkas laba kotor menjadi Rp175,06 miliar, turun dari Rp255,29 miliar pada kuartal I-2025. Artinya, pertumbuhan omzet belum berhasil dikonversi menjadi profitabilitas yang sehat.
Tekanan terbesar datang dari beban keuangan yang masih sangat tinggi, mencapai Rp895,27 miliar. Ditambah lagi, kerugian dari entitas asosiasi dan ventura bersama naik menjadi Rp126,02 miliar, memperburuk posisi laba perusahaan.
Meski sejumlah pos biaya seperti beban penjualan serta beban umum dan administrasi berhasil ditekan, dampaknya belum cukup signifikan untuk menahan laju kerugian. Kenaikan beban pajak final dan penurunan pendapatan bunga turut menambah tekanan pada kinerja keuangan.
Alhasil, Waskita Karya masih mencatat rugi bersih periode berjalan sebesar Rp678,03 miliar. Meski angka ini membaik dibanding rugi Rp1,24 triliun pada kuartal I-2025, perusahaan tetap belum keluar dari zona merah. Rugi per saham juga ikut menyusut menjadi Rp23,54 dari sebelumnya Rp43,26.
Secara keseluruhan, rugi periode berjalan tercatat Rp778,85 miliar, lebih rendah dari Rp1,36 triliun pada tahun sebelumnya, menunjukkan adanya perbaikan bertahap di sisi operasional.
Dari sisi neraca, total aset perusahaan turun menjadi Rp68,89 triliun dari Rp70,73 triliun pada akhir 2025. Liabilitas juga menurun menjadi Rp65,95 triliun, namun ekuitas ikut menyusut ke Rp2,94 triliun. Sementara itu, defisit yang ditanggung perseroan semakin dalam, mencapai Rp20,89 triliun.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa Waskita Karya memang mulai memperbaiki kinerja operasional, tetapi belum sepenuhnya lepas dari beban struktur keuangan yang berat terutama dari sisi utang dan biaya pendanaan yang masih membayangi.
Topik:
