Jakarta, MI – Nasib PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), perusahaan pengolahan udang beku berorientasi ekspor yang sebagian sahamnya dimiliki perusahaan milik Kaesang Pangarep, terus memburuk.
Beban utang yang menembus lebih dari Rp2 triliun, penurunan produksi, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi gambaran krisis yang kini membelit emiten berkode PMMP tersebut.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen PMMP mengungkapkan perusahaan tengah menghadapi tekanan likuiditas yang serius dan sedang mengajukan restrukturisasi utang kepada sejumlah kreditur. Nilai kewajiban tersebut bahkan belum termasuk bunga pinjaman.
Utang terbesar tercatat berasal dari Bank Permata dengan outstanding mencapai US$53,12 juta atau sekitar Rp929,6 miliar, ditambah fasilitas pinjaman sebesar Rp5,49 miliar. Selain itu, PMMP memiliki utang kepada Bank Central Asia (BCA) sebesar US$40,29 juta atau sekitar Rp705 miliar.
Kewajiban lainnya berasal dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebesar US$30,71 juta atau sekitar Rp537,4 miliar, PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar US$22,80 juta atau sekitar Rp400 miliar, serta pinjaman dari PT Bank Maspion Indonesia Tbk dan PT Bank Resona Perdania masing-masing sebesar US$7,21 juta dan US$5,99 juta.
Krisis keuangan tersebut berdampak langsung terhadap operasional perusahaan. Manajemen mengakui keterbatasan modal kerja membuat PMMP tidak mampu menjalankan seluruh fasilitas produksinya. Saat ini hanya satu pabrik di Situbondo yang masih beroperasi.
Untuk memenuhi kontrak ekspor, perusahaan bahkan harus membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan skema pembayaran setelah hasil ekspor diterima.
"Sementara ini perseroan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan pembayaran di belakang setelah hasil ekspor diterima oleh perseroan," tulis manajemen PMMP dikutip Minggu (5/7/2026).
PMMP juga mengungkapkan membutuhkan tambahan modal kerja sekitar US$15 juta atau setara Rp269,1 miliar agar operasional perusahaan dapat kembali berjalan secara optimal.
Efisiensi yang dilakukan perusahaan turut berdampak pada tenaga kerja. Sejak 2024 hingga pertengahan 2026, PMMP telah memangkas 37 staf, 79 pekerja harian, sementara 82 staf lainnya memilih mengundurkan diri.
Di tengah kondisi tersebut, perusahaan juga mencatat kemerosotan kinerja yang sangat tajam. Pada 2024, PMMP membukukan kerugian sekitar Rp252,76 miliar, berbalik dari laba Rp87,60 miliar pada tahun sebelumnya.
Kondisi semakin memburuk pada laporan keuangan per 31 Desember 2025. PMMP mencatat rugi bersih sebesar US$122,92 juta atau sekitar Rp1,93 triliun, berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya yang masih mencatat laba bersih sebesar US$81.240.
Di tengah tekanan bisnis yang semakin berat, Direktur Pemasaran PMMP Patrick Djuanda mengundurkan diri pada 25 Februari 2026 setelah sekitar 12 tahun menjabat. Perseroan tidak menjelaskan alasan pengunduran diri tersebut.
Sebagian saham PMMP diketahui dimiliki PT Harapan Bangsa Kita atau GK Hebat, perusahaan yang didirikan Kaesang Pangarep pada 2019 sebagai platform akselerator UMKM sektor makanan dan minuman. Perusahaan tersebut menggenggam 188,24 juta saham atau sekitar 7,27 persen kepemilikan di PMMP sejak November 2021.
Meski Kaesang hanya berstatus sebagai pemegang saham minoritas melalui PT Harapan Bangsa Kita, krisis yang membelit PMMP membuat nama putra bungsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu ikut menjadi sorotan publik.
