BREAKINGNEWS

Utang PMMP Rp2,8 Triliun, Kaesang Disorot

Utang PMMP Rp2,8 Triliun, Kaesang Disorot
Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep. (Dok Istimewa)

Jakarta, MI – Nama Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep kembali menjadi sorotan publik. Bukan semata karena aktivitas politiknya, melainkan paradoks yang mencolok antara kondisi sejumlah bisnis yang terus terpuruk dengan nilai kekayaan pribadinya yang tetap berada di level fantastis.

Sorotan terbaru datang setelah PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), perusahaan pengolahan udang ekspor yang sebagian sahamnya dimiliki Kaesang, menghadapi tekanan keuangan berat dengan total utang mencapai sekitar Rp2,8 triliun.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) per Juli 2026, PMMP tengah mengajukan restrukturisasi pinjaman kepada sejumlah bank. Kewajiban perusahaan tersebar di beberapa lembaga keuangan, antara lain Bank Permata, BCA, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Bank SMBC Indonesia, Bank Maspion Indonesia, hingga Bank Resona Perdania.

Total kewajiban perusahaan tersebut mencapai sekitar Rp2,8 triliun, sementara kondisi operasional perusahaan terus memburuk akibat minimnya modal kerja.

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai kondisi PMMP sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan.

"Nasib PT Panca Mitra Multiperdana Tbk menunggu ajal. Perusahaan ini susah diobati lantaran sudah terlalu banyak utangnya," kata Uchok di Jakarta dikutip Minggu (10/7/2026).

Menurutnya, peluang penyelamatan perusahaan semakin berat karena situasi politik telah berubah setelah Joko Widodo tidak lagi menjabat sebagai Presiden.

"Jokowi tidak punya jabatan di pemerintahan. Tidak ada lagi itu power. Sehingga makin sulit PMMP diobati untuk menyembuhkan keuangan perusahaan," ujarnya.

Uchok juga menilai memburuknya bisnis yang berkaitan dengan Kaesang dipengaruhi minimnya kemampuan mengelola usaha serta fokus yang kini lebih banyak tercurah pada aktivitas politik.

Ia bahkan memperkirakan kredit perbankan yang diterima PMMP berpotensi berubah menjadi kredit bermasalah apabila kondisi perusahaan tidak segera membaik.

Lini Bisnis Terus Bertumbangan

Kesulitan PMMP bukan terjadi dalam waktu singkat. Laporan keuangan perusahaan menunjukkan kerugian sebesar Rp252,76 miliar pada November 2024. Kondisi itu semakin memburuk hingga akhir 2025 ketika perusahaan mencatat rugi bersih mencapai sekitar Rp1,93 triliun.

Manajemen PMMP mengakui perusahaan mengalami krisis modal kerja dan membutuhkan tambahan dana sedikitnya US$15 juta agar operasional kembali normal. Saat ini hanya satu pabrik di Situbondo yang masih beroperasi, sementara untuk memenuhi kontrak ekspor perusahaan terpaksa membeli produk dari pihak lain melalui skema konsinyasi.

Tekanan finansial tersebut juga memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Sejak 2024 hingga pertengahan 2026, puluhan karyawan diberhentikan, sementara sejumlah staf memilih mengundurkan diri, termasuk Direktur Pemasaran Patrick Djuanda yang telah mengabdi selama 12 tahun.

Kaesang sendiri tercatat menguasai sekitar 7,27 persen saham PMMP atau setara 188,24 juta lembar saham melalui PT Harapan Bangsa Kita (GK Hebat) sejak November 2021.

Kondisi PMMP menambah daftar bisnis yang pernah dikaitkan dengan Kaesang namun tidak lagi beroperasi, mulai dari Ternakopi, Goola, Siapmas, Madhang, hingga Sang Javas.

Kekayaan Tetap Jadi Sorotan

Di tengah berbagai bisnis yang mengalami kemunduran, nilai kekayaan Kaesang justru tetap menjadi perhatian publik.

Berdasarkan nilai transaksi investasi yang pernah terungkap ke publik, Kaesang diketahui membeli saham PMMP senilai sekitar Rp92,2 miliar pada 2021 melalui GK Hebat.

Selain itu, bisnis Goola yang pernah dijalankannya juga sempat memperoleh pendanaan dari firma modal ventura Alpha JWC Ventures sebesar sekitar US$5 juta atau sekitar Rp71 miliar sebelum akhirnya menghentikan operasional.

Besarnya nilai investasi tersebut sempat memunculkan pertanyaan publik mengenai sumber pendanaan, terlebih ketika sejumlah usaha yang dijalankan justru mengalami penurunan kinerja.

Laporan ke KPK Berakhir Tanpa Proses Lanjutan

Sorotan terhadap kekayaan Kaesang juga berkaitan dengan sejumlah laporan yang pernah diajukan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pada 2022, dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun melaporkan dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang dikaitkan dengan investasi saham PMMP senilai Rp92 miliar. Namun KPK menyatakan laporan tersebut belum memenuhi bukti awal yang memadai sehingga tidak ditindaklanjuti.

Dua tahun kemudian, Ubedilah kembali melaporkan dugaan gratifikasi terkait penggunaan jet pribadi Gulfstream G650ER oleh Kaesang dan istrinya, Erina Gudono, saat bepergian ke Amerika Serikat.

Kala itu, Ubedilah mempertanyakan penggunaan pesawat mewah di tengah kondisi ekonomi masyarakat.

"Biaya transportasi pesawat jet pribadi super mewah yang bisa mencapai miliaran rupiah di tengah rakyat yang hidupnya semakin menderita, bahkan saat ini ada 9,89 juta generasi Z menganggur. Saya jadi benar-benar teringat dengan laporan saya 2,5 tahun lalu itu," ujar Ubedilah.

Namun KPK kembali tidak melanjutkan perkara tersebut dengan alasan Kaesang bukan penyelenggara negara sehingga tidak memiliki kewajiban melaporkan dugaan gratifikasi sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku.

Kini, memburuknya kondisi PMMP kembali memunculkan pertanyaan publik mengenai kontras antara runtuhnya sejumlah lini usaha yang pernah dijalankan Kaesang dengan nilai kekayaan yang tetap tinggi serta sumber pendanaan investasi yang pernah menjadi perhatian masyarakat.

Hal tersebut kembali menjadi bahan diskusi di ruang publik meski hingga kini belum ada proses hukum yang menyatakan adanya pelanggaran oleh Kaesang terkait isu-isu tersebut.

Topik:

Didin Alkindi

Penulis

Video Terbaru

Utang PMMP Rp2,8 Triliun, Kaesang Disorot | Monitor Indonesia