Jakarta, MI – Polemik kedatangan rombongan pria berambut cepak yang diduga anggota TNI ke Polda Metro Jaya semakin memantik sorotan. Di tengah viralnya video di media sosial, muncul fakta bahwa sedikitnya empat orang yang disebut berasal dari Kejaksaan Agung ikut berada di lokasi.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik setelah Kejaksaan Agung dan TNI sama-sama membantah adanya pengerahan personel ke Polda Metro Jaya.
Video yang beredar luas memperlihatkan rombongan pria berambut cepak mengenakan pakaian loreng hijau, sebagian terlihat membawa senjata, mendatangi Polda Metro Jaya pada Kamis (9/7/2026) malam. Bersama rombongan tersebut tampak empat pria berpakaian sipil yang belakangan disebut merupakan jaksa dari Kejaksaan Agung.
Informasi yang beredar menyebut keempat orang tersebut adalah Satria Ferry, yang terlihat mengenakan kemeja safari cokelat muda, Adi Purnama dengan rompi hitam, serta Luky Ferdinand Sumitro Saroinsong dan Yuliano yang mengenakan kaus putih.
Kedatangan mereka disebut-sebut berkaitan dengan upaya mengambil seorang saksi yang sedang berada dalam penanganan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya. Namun hingga kini belum ada penjelasan resmi yang membenarkan informasi tersebut.
Yang menarik, meski rekaman video memperlihatkan keberadaan empat orang yang diduga jaksa tersebut, Kejaksaan Agung justru membantah adanya personelnya yang mendatangi Polda Metro Jaya.
"Enggak ada," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Anang Supriatna, Jumat (10/7/2026).
Bantahan serupa datang dari Markas Besar TNI. Kepala Pusat Penerangan TNI Brigjen Muhammad Nas menegaskan tidak pernah ada pengerahan prajurit ke Polda Metro Jaya.
"Tidak benar TNI mendatangi Polda," ujar Nas.
Ia juga memastikan TNI menghormati seluruh proses penegakan hukum dan tidak mungkin mengirim personel bersenjata ke Polda Metro Jaya.
"Itu sangat nggak mungkin. Kalau ada kasus pasti TNI sangat menghargai proses. Lagian kalau ada yang mengaku sebagai personel BAIS, diragukan kebenarannya," tegas Nas.
Meski demikian, bantahan tersebut belum sepenuhnya meredam pertanyaan publik. Pasalnya, rekaman video memperlihatkan keberadaan rombongan pria berambut cepak bersama empat pria berpakaian sipil yang disebut-sebut berasal dari Kejaksaan Agung.
Viralnya video itu terjadi setelah Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipidkor) Polri bersama Polda Metro Jaya melakukan serangkaian penggeledahan di sejumlah lokasi, mulai dari kafe de'Clan Signature, sebuah money changer, hingga rumah mewah di kawasan Sentul.
Penggeledahan tersebut merupakan bagian dari penyidikan tiga perkara dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Dalam operasi itu, penyidik menyita barang bukti dalam jumlah fantastis, yakni sedikitnya 74 kilogram emas serta uang tunai ratusan miliar rupiah dalam berbagai pecahan mata uang asing dan rupiah.
Di tengah besarnya perkara yang sedang diusut, kemunculan rombongan pria berambut cepak bersama empat orang yang diduga jaksa justru menjadi sorotan baru.
Publik kini menanti penjelasan yang lebih rinci mengenai identitas para pihak yang terekam dalam video tersebut, tujuan kedatangan mereka ke Polda Metro Jaya, serta alasan munculnya bantahan dari dua institusi penegak hukum dan pertahanan di tengah beredarnya dokumentasi visual yang telah menjadi perhatian luas.
