Jakarta, MI - Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian mengungkapkan keprihatinannya atas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum Satpol PP Kota Bukittinggi terhadap dosen dan karyawan Universitas Fort De Kock, Bukittinggi.
"Tentu saya sangat prihatin atas dugaan kekerasan yang menimpa dosen dan karyawan Universitas Fort De Kock. Apabila benar terjadi tindakan kekerasan, hal tersebut tidak dapat dibenarkan," kata Hetifah Sjaifudian saat dihubungi monitorindonesia.com, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Ia menegaskan, penegakan aturan maupun penyelesaian sengketa, termasuk sengketa aset atau tanah, tentu harus dilakukan secara profesional, proporsional, dan mengedepankan penghormatan terhadap hukum serta hak asasi setiap warga negara.
"Kami mendorong aparat berwenang untuk melakukan penyelidikan secara objektif dan transparan agar fakta-fakta yang terjadi dapat diungkap, serta memastikan perlindungan bagi sivitas akademika," kata politisi Golkar itu.
Ia juga menghimbau agar semua pihak harus menahan diri, dan mengedepankan dialog serta mekanisme hukum dalam menyelesaikan sengketa.
"Sehingga proses pendidikan di Universitas Fort De Kock tidak terganggu, dan situasi dapat segera kondusif kembali," kata Hetifah.
Dosen dan karyawan Universitas Fort De Kock Bukittinggi, Sumatera Barat mendapat perlakuan tindak kekerasan oleh oknum Satpol PP Kota Bukittinggi. Ketiga pegawai tersebut adalah Rahmat Syukri, Erik, dan Khairul Abas. Kejadiannya berlangsung pagi ini, Rabu (22/7/2026).
Berawal dari beberapa oknum Satpol PP memanjat pagar yang terletak dibelakang kampus, Rahmat Syukri menegur oknum tersebut.
"Kenapa saudara-saudara memanjat pagar, kan bisa lewar pintu depan," ujar Rahmat Syukri kepada monitorindonesia.com saat dihubungi, Bukittinggi, (22/7/2026).
Mendapat teguran tersebut, oknum Satpol PP tersebut tak terima dan langsung memukuli tiga pegawai kampus tersebut.
"Mereka langsung meninju, bahak menyeret pegawai kampus," kata Rahmat.
Ia juga belum mengetahui motif dari oknum Satpol PP tersebut.
"Saya tidak tahu kenapa mereka memanjat pagar kampus," ujar Rahmat.
