Jakarta, MI — Skandal amplop yang menyeret Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) Suhardiman Amby kini memasuki babak yang lebih sensitif.
Bukan lagi sekadar soal siapa yang menyerahkan dan siapa yang menerima amplop, tetapi juga menyangkut misteri selisih uang 2.000 Dolar Singapura yang belum terang penjelasannya.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka peluang memeriksa ajudan Raja Juli dan Kapolres Kuansing AKBP Hidayat Perdana. Keduanya dinilai berpotensi memiliki informasi penting mengenai proses pengembalian amplop yang sebelumnya disebut berisi uang.
Langkah itu menjadi penting karena terdapat perbedaan nominal antara uang yang diduga diserahkan Suhardiman dan uang yang akhirnya dikembalikan.
Suhardiman disebut menyerahkan 14.000 Dolar Singapura. Namun ketika amplop dikembalikan, jumlahnya disebut tinggal 12.000 Dolar Singapura.
Artinya, ada selisih 2.000 Dolar Singapura yang harus dijelaskan secara terang.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan penyidik masih mendalami proses pengembalian tersebut. Keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui langsung peristiwa itu dapat diperlukan untuk membongkar seluruh rangkaian peristiwa.
“Terutama soal jumlah pengembalian yang ada gap, ada selisih dari jumlah yang diberikan,” kata Budi, Rabu (12/8/2026).
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan amplop belum dianggap selesai hanya karena uang telah dikembalikan.
Justru, pengembalian itu memunculkan pertanyaan baru: siapa yang menghitung uang tersebut, siapa yang memegang amplop, kapan jumlah uang berubah, dan siapa yang mengetahui adanya selisih?
Di titik inilah posisi ajudan Raja Juli menjadi sorotan.
Raja Juli sebelumnya mengakui menerima amplop dari Suhardiman pada 2 Juni 2026 saat keduanya bertemu dalam audiensi di Kementerian Kehutanan. Raja Juli mengklaim tidak mengetahui isi amplop tersebut.
Setelah mengetahui adanya pemberian, Raja Juli meminta ajudannya mengembalikan amplop.
Namun, pengembalian baru dilakukan pada 12 Juni 2026.
Jarak waktu antara penerimaan dan pengembalian itu menjadi bagian penting yang layak diurai penyidik. Terlebih, jumlah uang yang dikembalikan disebut tidak sama dengan nominal yang diduga diserahkan.
Jika benar terdapat 14.000 Dolar Singapura dalam amplop saat diserahkan, tetapi hanya 12.000 Dolar Singapura yang kembali, maka keberadaan selisih 2.000 Dolar Singapura harus memiliki penjelasan yang dapat diverifikasi.
KPK tidak cukup hanya memastikan bahwa amplop telah dikembalikan. Penyidik perlu mengurai seluruh mata rantai peristiwa, termasuk siapa yang menerima secara fisik, siapa yang menyimpan, siapa yang membuka atau memeriksa isinya, hingga siapa yang menyerahkan kembali.
Apalagi, persoalan ini muncul di tengah OTT KPK terhadap Suhardiman dalam perkara dugaan suap jual beli jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuansing.
Raja Juli juga disebut baru melaporkan penerimaan amplop tersebut kepada KPK setelah Suhardiman terkena OTT. KPK kemudian tidak menerima laporan tersebut.
Kini, skandal amplop itu kembali mencuat karena KPK sendiri membuka kemungkinan meminta keterangan pihak-pihak yang mengetahui proses pengembalian.
Ajudan Raja Juli berpotensi menjadi salah satu titik penting untuk mengonfirmasi versi yang selama ini berkembang. Begitu pula Kapolres Kuansing yang disebut berkaitan dengan proses pengembalian uang tersebut.
KPK telah menetapkan Suhardiman sebagai tersangka dugaan suap jual beli jabatan bersama Sekretaris Daerah Kuansing Zulkarnain dan Direktur Utama PT Mitra Ideal Consultant Ardiles.
Suhardiman diduga sebagai penerima, sedangkan Zulkarnain dan Ardiles diduga sebagai pemberi.
Dengan demikian, pengusutan amplop tidak boleh berhenti pada pengakuan bahwa uang telah dikembalikan.
Ada jeda waktu. Ada perbedaan nominal. Ada selisih 2.000 Dolar Singapura. Dan ada sejumlah orang yang disebut mengetahui proses pengembalian.
Kini bola berada di tangan KPK. Publik berhak mendapat jawaban terang: ke mana 2.000 Dolar Singapura itu dan siapa yang mengetahui perubahan jumlah uang tersebut?
Sebab, dalam perkara yang sedang diusut lembaga antirasuah, selisih uang bukan perkara sepele. Selisih itu justru bisa menjadi potongan penting untuk menguji seluruh rangkaian cerita di balik sebuah amplop.
