Penguasa Proyek di Dirjen SDA Kementerian PU

Infografis, MI - Dua perusahaan konstruksi nasional, PT Runggu Prima Jaya dan PT Basuki Rahmanta Putra, tercatat sebagai pemain dominan dalam perolehan proyek di lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA), Kementerian Pekerjaan Umum dalam kurun waktu 2022 hingga 2025. Nilai kontrak yang diraih keduanya menembus angka triliunan rupiah dan tersebar di berbagai wilayah strategis Indonesia.
Dari data yang diperoleh Monitorindonesia.com, Rabu (4/3/2026) bahwa PT Runggu Prima Jaya yang dipimpin Direktur Utama Marlon Pakpahan mengamankan sedikitnya enam proyek besar sepanjang 2023–2025 dengan total nilai sekitar Rp 403 miliar.
Pada 2025, perusahaan ini memenangkan tender ulang evaluasi ulang untuk Pembangunan Tanggul Penutup, Fasilitas dan Prasarana Bendung serta Jaringan D.I. Batang Asai di Kabupaten Sarolangun dengan nilai kontrak Rp 45.599.990.240,00.
Setahun sebelumnya, 2024, PT Runggu Prima Jaya mengerjakan Peningkatan Kapasitas Saluran Tarum Barat Tahap 2 di Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi dengan nilai Rp 73.399.321.698,93.
Sementara pada 2023, perusahaan ini memborong empat proyek strategis sekaligus, yakni Pembangunan Floodway Sikambing–Belawan di Medan senilai Rp 65.591.771.720,25; Rehabilitasi Groundsill dan Dinding Penahan Tanah Bendung Cipamingkis di Kabupaten Bogor senilai Rp 58.935.772.525,96; Pembangunan Prasarana Pengendalian Banjir Rob Belawan (lanjutan) di Belawan Medan sebesar Rp 111.321.501.672,97; serta Pembangunan Pengaman Pantai Pesisir Teluk Jakarta Tahap 6 Paket 6 di Jakarta dengan nilai Rp 48.448.089.490,75.
Akumulasi kontrak ratusan miliar rupiah dalam tiga tahun itu menempatkan PT Runggu Prima Jaya sebagai salah satu kontraktor yang konsisten mendapatkan proyek-proyek pengendalian banjir, irigasi, dan pengamanan pantai di bawah Ditjen SDA.
Di sisi lain, PT Basuki Rahmanta Putra yang dipimpin Direktur Utama Ir. Henry Pakpahan, MBA, mencatat nilai kontrak yang jauh lebih besar. Sepanjang 2022–2025, total proyek yang diraih perusahaan ini mencapai sekitar Rp 1,40 triliun.
Pada 2025, perusahaan ini mengantongi dua proyek besar: Peningkatan D.I. Way Sekampung (Raman Utara) di Lampung Timur senilai Rp 92.005.664.800,00 serta Rehabilitasi D.I. Cisadane di Kabupaten Tangerang sebesar Rp 44.878.376.892,00.
Tahun 2024, PT Basuki Rahmanta Putra mengerjakan Pengendalian Banjir Kali Pesanggrahan di Jakarta Selatan dengan nilai Rp 40.720.835.717,13 serta Cisanggarung River Banks Protection di Kabupaten Kuningan senilai Rp 36.040.678.830,10.
Pada 2023, nilai proyek melonjak signifikan. Perusahaan ini menangani Drainase Utama Kota Jambi (Loan JICA) senilai Rp 144.938.135.390; Peningkatan Kapasitas Saluran Tarum Barat Tahap I di Karawang sebesar Rp 161.472.992.304,06; serta Pengendalian Banjir Sungai Seluang dan Tengin di kawasan IKN, Penajam Paser Utara, dengan nilai Rp 60.560.000.000,00.
Dominasi paling besar terlihat pada 2022, ketika enam proyek sekaligus diraih, di antaranya Groundsill Sungai Cipamingkis 5 dan 6 di Bogor senilai Rp 221.054.245.924,40 serta Pengendalian Banjir dan Rob Tambak Lorok Tahap II di Semarang yang mencapai Rp 225.108.718.520,83. Selain itu, terdapat proyek Pengaman Pantai Teluk Jakarta Tahap 6 Paket 5 senilai Rp 155.557.293.762,29 dan sejumlah pekerjaan rehabilitasi irigasi di Subang, Deli Serdang, Serdang Bedagai, serta pembangunan Pintu Air DIR Dadahup Tahap 2 di Kabupaten Kapuas.
Tak hanya melalui mekanisme tender, pada Tahun Anggaran 2025 perusahaan ini juga memperoleh tambahan pekerjaan melalui skema e-Purchasing. Di antaranya Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I. Waduk Malahayu di Brebes senilai Rp 43.679.918.840 dari SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air II Cimanuk Cisanggarung, serta Pengendalian Banjir Saluran Pembuang Kedunghurang di Karawang senilai Rp 44.379.635.192 dari SNVT Pelaksanaan Jaringan terkait.
Besarnya nilai proyek yang terkonsentrasi pada dua perusahaan tersebut memperlihatkan peta persaingan kontraktor di lingkungan Ditjen SDA. Dengan total gabungan mendekati Rp 1,8 triliun dalam beberapa tahun terakhir, kedua perusahaan ini menjadi aktor kunci dalam proyek-proyek pengendalian banjir, irigasi, hingga pengamanan pantai di berbagai daerah Indonesia. (an)
