BREAKINGNEWS

Dari Indonesia ke Eropa: Jejak Green Product dan Surya Inti Seret Eni–Neste dalam Skandal POME

Dari Indonesia ke Eropa: Jejak Green Product dan Surya Inti Seret Eni–Neste dalam Skandal POME
Ilsutrasi - Dugaan korupsi ekspor limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) (Foto: Dok MI/Diolah)

Jakarta, MI — Skandal dugaan manipulasi ekspor sawit Indonesia kini menyeruak sebagai potret buram tata kelola komoditas strategis yang diduga tak hanya merugikan negara hingga triliunan rupiah, tetapi juga menipu rantai pasok energi hijau global.

Investigasi lintas negara yang digarap AFP dan SourceMaterial sebagaimana dinukil Monitorindonesia.com, Jumat (20/3/2026) membuka tabir keterkaitan perusahaan sawit Indonesia—yang kini dibidik aparat penegak hukum—dengan raksasa energi Eropa seperti Eni (Italia) dan Neste (Finlandia). Namun yang lebih mengkhawatirkan, praktik ini diduga bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan rekayasa sistematis yang melibatkan jejaring korporasi dan aparat.

Modusnya terang: minyak sawit berkadar asam tinggi—yang seharusnya dikenai beban ekspor lebih tinggi—disulap di atas kertas menjadi limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Dengan satu langkah manipulasi kode HS, kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), bea keluar, hingga pungutan sawit bisa dihindari.

Di balik istilah teknis itu, tersimpan potensi kerugian negara yang mencengangkan. Kejaksaan Agung mengungkap angka sementara mencapai Rp10,6 hingga Rp14,3 triliun—angka yang menunjukkan dugaan praktik ini berlangsung masif, terstruktur, dan dalam rentang waktu panjang (2022–2024).

Lebih dari sekadar angka, penyidikan menemukan indikasi adanya suap untuk melancarkan manipulasi tersebut. Sebanyak 11 tersangka telah dijerat, termasuk pejabat Bea Cukai dan Kementerian Perindustrian—indikasi kuat bahwa praktik ini tidak berdiri sendiri, melainkan beroperasi dalam ekosistem yang permisif, bahkan diduga dilindungi.

Rantai Pasok Global Terkontaminasi

Temuan investigasi internasional memperparah situasi. Produk yang dilabeli sebagai POME dari Indonesia tetap mengalir ke pasar Eropa dan masuk ke rantai pasok biofuel yang selama ini diklaim “berkelanjutan”.

Nama perusahaan seperti Green Product International, Surya Inti Primakarya, dan Bumi Mulia Makmur muncul dalam pusaran ini. Ketiganya diduga terlibat dalam pengiriman ke Eni (2022–2024) dan Neste (2023–2024).

Ironisnya, Uni Eropa justru tengah bersiap menghapus biofuel berbasis sawit pada 2030 karena isu deforestasi. Namun celah verifikasi membuat “sawit terselubung” tetap lolos sebagai limbah.

“Penyamaran sawit sebagai limbah seperti POME terlalu mudah dilakukan. Ini menunjukkan sistem verifikasi global masih rapuh,” ujar Cian Delaney dari Transport and Environment (T&E).

Artinya, bukan hanya Indonesia yang dirugikan. Kredibilitas agenda energi hijau Eropa pun ikut tercoreng.

Perusahaan Eropa Jaga Jarak, Tapi Tanggung Jawab Dipertanyakan

Eni dan Neste sama-sama membantah keterlibatan langsung. Keduanya mengklaim hanya menerima pasokan dari pemasok bersertifikat, dan telah mengambil langkah korektif setelah kasus ini mencuat.

Namun bantahan ini belum menjawab satu pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin produk yang diduga hasil manipulasi bisa lolos berulang kali ke pasar Eropa?

Jika sertifikasi seperti ISCC bisa ditembus, maka klaim keberlanjutan dalam industri biofuel global layak dipertanyakan ulang.

Penggeledahan Masif, Aset Disita

Di dalam negeri, Kejagung bergerak agresif. Puluhan lokasi di Riau dan Medan digeledah, mulai dari kantor, rumah, hingga pabrik kelapa sawit.

Direktur Penyidikan Jampidsus, Syarief Sulaeman Nahdi, menegaskan penyidik bahkan melakukan pemeriksaan saksi langsung di lokasi untuk mencegah hilangnya barang bukti.

Aset yang disita tidak main-main: tanah, pabrik, alat berat, hingga kendaraan milik para tersangka. Ini mengindikasikan skala operasi yang jauh dari kecil—lebih menyerupai industri gelap dalam industri resmi.

Negara Kecolongan atau Membiarkan?

Kasus ini menelanjangi satu fakta yang sulit dibantah: pengawasan ekspor komoditas strategis Indonesia berada dalam kondisi rentan—jika bukan sengaja dilonggarkan.

Dengan lebih dari 40 saksi diperiksa dan perhitungan kerugian masih berjalan, skandal POME berpotensi menjadi salah satu kasus korupsi terbesar di sektor sumber daya alam dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap energi “bersih”, praktik manipulasi ini justru memperlihatkan sisi gelap transisi energi: ketika label hijau bisa dibeli, dan limbah bisa dijadikan kedok.

Kini pertanyaannya bukan lagi siapa yang terlibat—melainkan seberapa dalam praktik ini mengakar, dan siapa saja yang selama ini diuntungkan.

Topik:

Adelio Pratama

Penulis

Video Terbaru

Eni–Neste Terseret Skandal POME: Sawit Disamarkan, Negara Di | Monitor Indonesia