Garuda Terbang Terseok: Rugi Meledak Rp 5,4 T di 2025, Borok Lama Belum Tuntas!
.webp)
Jakarta, MI - Kinerja keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) kembali jadi sorotan tajam. Alih-alih bangkit setelah restrukturisasi dan suntikan modal jumbo, maskapai pelat merah ini justru mencatat kerugian fantastis sepanjang 2025.
Berdasarkan laporan keuangan per Maret 2026, Garuda membukukan rugi bersih sebesar US$319,39 juta atau setara Rp5,39–Rp5,4 triliun. Angka ini melonjak drastis hingga 4,5 kali lipat dibandingkan kerugian tahun 2024 yang berada di kisaran US$69,77 juta–US$72,7 juta.
Lonjakan kerugian tersebut menegaskan satu hal: masalah Garuda bukan sekadar siklus bisnis, melainkan krisis struktural yang belum terselesaikan.
Armada Mangkrak Jadi Biang Kerok
Salah satu penyebab utama ambruknya kinerja adalah banyaknya armada yang tidak bisa dioperasikan (unserviceable).
Hingga akhir 2025, tercatat masih ada sekitar 43 pesawat yang belum bisa terbang karena terhambat perawatan akibat gangguan rantai pasok global.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, mengakui kondisi ini sangat memukul kapasitas produksi perusahaan.
“Penurunan kinerja Garuda Indonesia Group utamanya dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I-2025,” ujarnya.
Akibatnya, jumlah penumpang anjlok menjadi 21,2 juta atau turun 10,5% secara tahunan. Pendapatan pun ikut terseret turun sekitar 5,85%–5,9% menjadi US$3,22 miliar.
Beban Membengkak, Rupiah Tertekan
Di tengah penurunan pendapatan, beban justru meningkat. Beban keuangan naik 9,56% menjadi US$525,79 juta, ditambah tingginya biaya pemeliharaan armada yang belum optimal.
Tekanan juga datang dari fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, mengingat sebagian besar kewajiban dan biaya operasional Garuda masih berbasis dolar.
“Rugi bersih sebesar US$319,39 juta turut dipengaruhi fluktuasi kurs serta peningkatan biaya fixed cost,” kata Glenny.
Disuntik Rp23,7 Triliun, Tapi Tetap Berdarah
Ironisnya, kerugian ini terjadi meski Garuda baru saja mendapat suntikan dana jumbo sebesar Rp23,67 triliun dari BPI Danantara pada Desember 2025.
Dana tersebut terdiri dari konversi utang Rp6,65 triliun dan tambahan modal tunai Rp17 triliun. Namun, suntikan likuiditas itu belum mampu menghentikan laju kerugian.
Defisit perusahaan bahkan menumpuk hingga US$3,83 miliar atau sekitar Rp64,3 triliun.
Neraca Rapuh: Utang Masih Menggunung
Secara neraca, kondisi Garuda masih rapuh. Total aset tercatat US$7,43 miliar, sementara liabilitas hampir menyamai yakni US$7,33 miliar. Ekuitas memang sudah kembali positif di angka US$91,91 juta, tetapi sangat tipis dibanding beban utang yang menggunung.
BPK Sudah Bongkar Borok Sejak 2024
Kondisi ini bukan tanpa peringatan. Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah mengungkap berbagai masalah serius dalam tubuh Garuda melalui LHP Nomor 18/LHP/XX/8/2024 tertanggal 30 Agustus 2024.
Dalam laporan itu, BPK menemukan sederet persoalan kronis, mulai dari lemahnya tata kelola hingga potensi kerugian besar.
“PT GI belum menyusun kebijakan internal (SOP) dengan komprehensif sebagai tindak lanjut hasil keputusan homologasi,” tulis BPK sebagaimana data yang diperoleh Monitorindonesia.com, Sabtu (21/3/2026).
Tak hanya itu, BPK juga mengungkap adanya dana menganggur dalam bentuk suku cadang senilai USD 69.968,79, serta piutang macet mencapai Rp2,07 triliun akibat lemahnya prinsip kehati-hatian dalam kerja sama charter.
Masalah lain yang tak kalah serius meliputi:
Pengelolaan cargo yang tidak optimal
Anak usaha yang tidak mampu menutup beban operasional
Kewajiban pensiun yang belum dibayarkan
Penurunan hasil investasi dana pensiun
Perjanjian bisnis yang tidak sesuai pedoman
“Pengelolaan cargo pada PT GI belum memadai,” tegas BPK.
Krisis Sistemik, Bukan Sekadar Tekanan Pasar
Rangkaian fakta tersebut menunjukkan persoalan Garuda bersifat sistemik. Dari operasional, keuangan, hingga tata kelola, semuanya saling terkait dan memperparah kondisi perusahaan.
Kini, meski manajemen menargetkan peningkatan armada layak terbang dari 84 menjadi 99 unit, publik masih menunggu bukti nyata: apakah Garuda benar-benar bisa bangkit, atau justru terus terjebak dalam lingkaran kerugian?
Topik:
