Jakarta, MI– Ancaman stunting di Indonesia masih jauh dari kata selesai. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, mengungkapkan sebanyak 8,1 juta keluarga di Indonesia masih masuk kategori keluarga berisiko stunting (KRS) berdasarkan hasil Pendataan Keluarga Tahun 2025.
Angka tersebut menunjukkan bahwa jutaan keluarga Indonesia masih bergelut dengan persoalan mendasar seperti sanitasi buruk, minimnya akses air bersih, hingga lemahnya perencanaan keluarga yang berpotensi melahirkan generasi rentan gizi buruk.
"Dari 41,4 juta keluarga pasangan usia subur yang terdata, sebanyak 8,1 juta teridentifikasi sebagai keluarga berisiko stunting," kata Wihaji saat rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Data yang dipaparkan BKKBN menunjukkan akar persoalan stunting di Indonesia belum sepenuhnya tersentuh pembangunan dasar.
Dari 8,1 juta keluarga berisiko stunting tersebut:
2,9 juta keluarga tidak memiliki jamban layak
1,7 juta keluarga belum memiliki akses air minum yang layak
4,3 juta keluarga masuk kategori pasangan usia subur (PUS) 4T, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak melahirkan, dan terlalu sering melahirkan, serta tidak menggunakan alat kontrasepsi modern.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan stunting bukan hanya soal makanan, tetapi juga menyangkut kualitas lingkungan, kesehatan reproduksi, dan akses terhadap layanan dasar.
Di tengah berbagai program percepatan penurunan stunting yang dijalankan pemerintah, angka prevalensi stunting nasional masih berada di atas target yang ditetapkan.
Wihaji mengakui prevalensi stunting Indonesia masih berada pada angka 19,8 persen, sementara target pemerintah untuk tahun 2025 adalah 18,8 persen.
Pemerintah sendiri menargetkan angka stunting turun menjadi 14,2 persen pada 2029.
Data tersebut menunjukkan bahwa upaya penanganan stunting masih menghadapi tantangan besar, terutama di wilayah dengan tingkat kemiskinan, sanitasi buruk, dan akses layanan kesehatan yang terbatas.
Untuk menekan angka stunting, pemerintah menjalankan program Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (GENTING) yang menyasar keluarga berisiko, khususnya kelompok ekonomi terbawah.
Wihaji mengklaim realisasi program tersebut telah melampaui target.
"Dari target satu juta keluarga, capaian GENTING sudah mencapai 1,6 juta keluarga," ujarnya.
Menurutnya, bantuan yang diberikan tidak hanya berupa edukasi, tetapi juga dukungan nutrisi, penyediaan air bersih, pembangunan jamban sehat, hingga bantuan rumah layak huni.
Meski berbagai program telah dijalankan, temuan 8,1 juta keluarga berisiko stunting menjadi alarm serius bagi pemerintah. Besarnya jumlah keluarga yang masih hidup tanpa sanitasi layak dan akses air bersih menunjukkan bahwa persoalan stunting masih berkaitan erat dengan ketimpangan pembangunan dan kemiskinan struktural.
Jika tidak ditangani secara agresif dan berkelanjutan, jutaan anak Indonesia berpotensi tumbuh dalam kondisi kurang gizi yang berdampak pada kecerdasan, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Pemerintah kini menghadapi tantangan besar untuk memastikan target penurunan stunting tidak hanya menjadi angka di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan oleh jutaan keluarga yang hingga hari ini masih hidup dalam kondisi rentan.**
