Bekasi, MI– Aktivitas proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Bantargebang, Kota Bekasi, menuai keluhan warga. Kepulan debu yang berasal dari lalu lalang truk pengangkut material dan ceceran tanah merah disebut memicu gangguan kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi proyek.
Warga yang bermukim di sepanjang Jalan Pangkalan 5, Kelurahan Cikiwul, mengaku harus menghadapi paparan debu setiap hari selama hampir dua pekan terakhir. Kondisi tersebut diperparah oleh cuaca kemarau yang membuat debu semakin mudah beterbangan dan masuk ke permukiman warga.
Salah seorang warga, Tia (41), mengaku aktivitas berjualannya terganggu akibat debu yang terus berterbangan setiap kali truk proyek melintas.
"Debunya ini yang luar biasa, sama mungkin kan sesak. Kalau malam jadi gatal. Karena kan kena keringat bercampur debu," ujar Tia.
Menurutnya, dampak kesehatan tidak hanya dirasakan orang dewasa, tetapi juga anak-anak hingga balita di lingkungan sekitar.
"Banyak yang sakit juga. Sepupu saya, cucunya yang masih kecil-kecil pada sakit. Ada yang bayi juga. Pada sesak napas," katanya.
Keluhan serupa disampaikan Rinto (60), pemilik usaha tambal ban yang beraktivitas di kawasan tersebut. Ia mengaku kini tak bisa lepas dari masker saat bekerja.
"Ini aja kalau mau keluar rumah harus pakai masker. Soalnya debunya udah banyak banget, kalau terhirup jadi batuk-batuk," ungkap Rinto.
Sementara itu, seorang pekerja bernama Yano (50) mengaku sempat mengalami gangguan pernapasan akibat terlalu lama terpapar debu proyek.
"Sampai harus memakai masker takut debunya terisap," kata Yano.
Ia menilai kondisi saat ini sangat mengganggu aktivitas warga, terutama mereka yang berjualan makanan di sekitar lokasi proyek.
"Gimana mau nafsu makan, baru mau buka mungkin sudah bercampur debu. Belum lagi baunya," ujarnya.
Warga menyebut kondisi tersebut mulai terjadi sejak proyek pengurukan tanah berlangsung sekitar dua pekan lalu. Mereka juga menyoroti operasional truk material yang tidak hanya berlangsung pada malam hari, tetapi juga sejak siang hingga sore hari.
"Harusnya kan mobil pengurukan itu malam, tapi ini siang sama sore juga ada," kata Tia.
Masyarakat berharap pihak pelaksana proyek segera mengambil langkah pengendalian debu, mulai dari penyiraman jalan secara berkala hingga pengaturan jam operasional kendaraan proyek. **
