Rismon Sianipar Klarifikasi soal Analisis Ijazah Jokowi, Akui Ada Kekeliruan

Jakarta, MI - Pakar digital imaging Rismon Sianipar memberikan klarifikasi terkait hasil analisisnya sebelumnya mengenai dokumen ijazah Presiden Joko Widodo. Melalui video yang diunggah di kanal YouTube Balige Academy, Rismon mengakui adanya kekeliruan dalam kajian ilmiah yang sebelumnya dimuat dalam buku Jokowi White Paper (JWP).
Dalam pernyataannya, Rismon menegaskan bahwa sebagai peneliti dirinya berkewajiban menjunjung tinggi objektivitas dan kebenaran ilmiah. Karena itu, ia merasa perlu meluruskan temuan yang dinilai tidak tepat dalam analisis sebelumnya.
Rismon juga menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Jokowi beserta keluarga atas polemik yang muncul setelah hasil kajiannya beredar di publik.
“Sebagai peneliti, saya harus menjunjung tinggi kebenaran ilmiah. Jika ada kesalahan dalam analisis, maka saya wajib mengoreksinya,” kata Rismon dalam video klarifikasi tersebut.
Rismon menjelaskan bahwa dalam satu hingga dua bulan terakhir dirinya melakukan peninjauan ulang secara mendalam terhadap data digital dokumen ijazah tersebut.
Dalam analisis terbarunya, ia memasukkan variabel tambahan yang sebelumnya belum dianalisis secara optimal, seperti translasi, rotasi, serta efek pencahayaan pada dokumen.
Menurut Rismon, penggunaan variabel geometri tersebut membantu menjelaskan sejumlah elemen yang sebelumnya dianggap tidak terlihat, termasuk watermark dan emboss pada dokumen.
“Dengan melibatkan variabel-variabel tersebut, akhirnya bisa terjawab. Beberapa elemen yang sebelumnya saya anggap tidak ada ternyata memang terdapat dalam dokumen tersebut,” tuturnya.
Gunakan Metodologi Digital Forensik
Dalam kajian ulang tersebut, Rismon menyatakan bahwa ia menggunakan sejumlah metode analisis digital forensik untuk menguji autentisitas dokumen.
Beberapa metode yang diterapkan meliputi gradient analysis, rekonstruksi lintasan stempel, analisis pencahayaan digital, serta simulasi geometri dokumen.
Melalui pendekatan ini, Rismon menyimpulkan bahwa perbedaan tampilan elemen keamanan pada dokumen sebelumnya disebabkan oleh efek pencahayaan dan sudut geometri saat dokumen dipindai atau difoto.
Berdasarkan hasil kajian ulang tersebut, ia menilai dokumen itu memiliki elemen keamanan yang valid. “Temuan terbaru ini justru membuktikan autentisitas dokumen dan sekaligus menyanggah analisis saya sebelumnya dalam buku Jokowi White Paper,” jelasnya.
Klarifikasi Bukan karena Tekanan
Menanggapi berbagai spekulasi yang beredar di publik, Rismon menegaskan bahwa klarifikasi yang ia sampaikan bukanlah akibat tekanan dari pihak tertentu.
Menurutnya, penelitian ilmiah pada dasarnya bersifat dinamis dan terbuka terhadap koreksi apabila ditemukan data baru yang lebih akurat.
“Penelitian itu progresif. Jika ada data yang lebih kuat, maka peneliti harus berani menyampaikannya meskipun hasilnya berbeda dengan temuan sebelumnya,” kata dia.
Rismon juga menyatakan siap untuk mempresentasikan hasil kajian ilmiah tersebut secara terbuka di forum akademik, termasuk kepada pihak-pihak yang sebelumnya terlibat dalam diskusi mengenai penelitian tersebut.
Roy Suryo: Klarifikasi Rismon Sikap Pribadi
Pakar telematika yang juga menjadi salah satu penulis buku Jokowi White Paper, Roy Suryo, turut menanggapi klarifikasi yang disampaikan Rismon Sianipar.
Roy menegaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan sikap pribadi Rismon dan tidak mewakili seluruh penulis buku tersebut. Menurutnya, kesimpulan penelitian yang selama ini ia sampaikan bersama tim tetap merujuk pada hasil kajian yang telah dipublikasikan sebelumnya.
Roy juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang terlibat dalam proses kajian maupun proses hukum terkait isu tersebut, mulai dari tim ahli, pengacara, hingga sejumlah organisasi yang memberikan dukungan penelitian.
Ia menegaskan, pihaknya akan tetap melanjutkan kajian secara ilmiah dan bertanggung jawab.
Topik:
