BREAKINGNEWS

Di balik Polemik Ijazah Jokowi, Rismon Disebut ‘Penyusup’ di Barisan Aktivis

Di balik Polemik Ijazah Jokowi, Rismon Disebut ‘Penyusup’ di Barisan Aktivis
Setelah bertemu Jokowi di Solo pada Kamis (12/3/2026), pada Jumat (13/3/2026) Rismon Sianipar mendapat fasilitas untuk bertemu dengan Gibran di istana Wakil Presiden Jakarta. Gibran juga memberi bingkisan kepada Rismon

Jakarta, MI - Pernyataan keras dan penuh kontroversi dilontarkan Aktivis Senior Kebangsaan, Zulkifli S Ekomei, yang secara terang-terangan menuding pakar forensik digital Rismon Hasiholan Sianipar sebagai “agen yang disusupkan” untuk merusak gerakan aktivis dari dalam.

Ucapan itu bukan sekadar kritik biasa. Dalam sebuah wawancara, Zulkifli secara blak-blakan menyebut perubahan sikap Rismon sebagai sesuatu yang “sudah terbaca sejak awal” dan kini dianggap terbukti.

“Sejak awal saya sudah curiga. Penyusup, penyusup. Kenapa masih kaget?” tegasnya, tanpa tedeng aling-aling dinukil Monitorindonesia.com, Jumat (20/3/2026).

Menurut Zulkifli, pola kritik keras Rismon di masa lalu justru terasa janggal. Ia menyoroti bagaimana Rismon berani menyerang pejabat tinggi seperti Kapolri hingga menteri, namun nyaris tanpa konsekuensi hukum yang berarti.

Bagi Zulkifli, hal itu bukan keberanian—melainkan indikasi adanya “perlindungan tak kasat mata”.

Pertemuan dengan Jokowi Disebut ‘Laporan Misi’

Sorotan tajam juga diarahkan pada momen pertemuan Rismon dengan Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka di Solo. Jika publik melihatnya sebagai klarifikasi atau permintaan maaf, Zulkifli justru membalik narasi itu secara ekstrem.

“Itu bukan menghadap, itu pulang kampung. Lapor bahwa misinya sudah selesai,” sindirnya.

Pernyataan ini langsung memantik spekulasi liar: apakah selama ini Rismon memang menjalankan peran tertentu di dalam lingkaran aktivis?

Zulkifli juga menolak mentah-mentah anggapan bahwa perubahan sikap Rismon dipicu tekanan.

“Nggak ada tekanan. Itu hanya kamuflase. Drama saja,” katanya tajam.

Jejak Relasi Kekuasaan Ikut Diseret

Tak berhenti di situ, Zulkifli turut mengungkit rekam jejak Rismon, termasuk perannya sebagai ahli digital forensik dalam tim kuasa hukum Otto Hasibuan pada kasus Jessica Wongso.

Ia juga menyinggung keterkaitan relasi yang dinilai tidak sederhana. Putra Otto, Yakub Hasibuan, diketahui pernah berada dalam lingkaran hukum yang berkaitan dengan Presiden.

Bagi Zulkifli, benang merah ini semakin menguatkan dugaan adanya kedekatan dengan pusat kekuasaan.

Bahkan, gaya hidup Rismon selama menjadi aktivis ikut disorot dan disebut “tidak lazim”, memicu kecurigaan yang lebih dalam.

Alarm Keras untuk Dunia Aktivisme

Zulkifli menilai kasus ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan peringatan serius bagi gerakan aktivis secara luas.

Ia menuding lemahnya “insting intelijen” di internal gerakan telah membuka pintu bagi infiltrasi.

“Ini baru satu. Saya khawatir ada yang levelnya lebih tinggi yang belum terungkap,” ujarnya, memberi nada ancaman yang tidak bisa dianggap enteng.

Tuduhan Berat, Bukti Masih Nihil

Meski dilontarkan dengan nada tinggi dan penuh keyakinan, tudingan Zulkifli tetap menyisakan pertanyaan besar: di mana buktinya?

Hingga kini, klaim “agen penyusup” tersebut masih sebatas opini dan belum ditopang oleh bukti yang bisa diuji secara publik.

Dalam dinamika politik, perubahan sikap tokoh memang kerap terjadi—namun melabeli seseorang sebagai “agen” tanpa dasar kuat berisiko menjadi fitnah serius.

Di sisi lain, narasi penyusupan juga bisa menjadi pedang bermata dua: membangkitkan kewaspadaan, tapi sekaligus memecah belah gerakan dari dalam.

Karena itu, publik dituntut tidak menelan mentah-mentah tuduhan keras ini. Pisahkan fakta, opini, dan dugaan—sebab di tengah panasnya konflik narasi, kebenaran sering kali justru menjadi korban pertama.

Hingga berita ini dipublikasikan, Rismon belum menjawab konfirmasi Monitorindonesia.com.

Topik:

Adelio Pratama

Penulis

Video Terbaru