BREAKINGNEWS

Istana: Tak Ada Rencana Tarik Pasukan TNI dari Lebanon

Istana: Tak Ada Rencana Tarik Pasukan TNI dari Lebanon
Istana Pastikan TNI Tetap Jalankan Misi Perdamaian di Lebanon (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menarik prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tengah bertugas dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Keputusan ini diambil meskipun sebelumnya terjadi insiden yang melibatkan Israel dan Hizbullah, yang menyebabkan tiga prajurit TNI gugur dan delapan lainnya mengalami luka-luka saat menjalankan tugas.

"Oh tidak ada untuk ke situ [menarik pasukan TNI dari UNIFIL]. Evaluasi tetap berjalan, evaluasi ke dalam dan ke luar," kata Teddy kepada awak media, dikutip Sabtu (11/4/2026).

Ia juga menambahkan, keikutsertaan Indonesia dalam misi seperti UNIFIL merupakan bagian dari komitmen menjaga perdamaian. Langkah tersebut sejalan dengan mandat yang termaktub dalam alinea keempat pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yakni ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

"Saya rasa Bapak Panglima TNI [Agus Subiyanto] kemudian Menteri Luar Negeri [Sugiono] sangat tegas mengenai semua prajurit kita yang berada di luar negeri dan dalam negeri ya," tuturnya.

Juru Bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stephane Dujarric, menyebut bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional. 

Pernyataan itu disampaikan setelah investigasi awal United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menemukan dugaan keterlibatan Israel dan Hizbullah dalam insiden yang menyebabkan gugurnya tiga prajurit TNI.

"Semua pihak harus mematuhi kewajiban mereka untuk menjamin keselamatan dan keamanan para penjaga perdamaian setiap saat. Kekebalan fasilitas Perserikatan Bangsa-Bangsa harus dihormati," ata Dujarric dalam siaran pers, Rabu (8/4/2026). 

Sementara itu, dari hasil temuan awal, insiden yang terjadi pada 29 Maret 2026 diduga dipicu oleh tembakan proyektil peluru utama tank kaliber 120 mm dari tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur, menuju Ett Taibe. 

Hal ini ditemukan berdasarkan analisis lokasi dampak dan khususnya fragmen proyektil yang ditemukan di posisi Perserikatan Bangsa-Bangsa 7-1. Insiden ini menyebabkan gugurnya Kopral Dua Anumerta Farizal Rhomadhon.

Sementara itu, insiden ledakan pada 30 Maret 2026 yang menewaskan Mayor Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan disebabkan oleh perangkat peledak rakitan atau improvised explosive device (IED) yang diaktifkan oleh korban (tripwire). 

Dari hasil penelusuran di lokasi serta pola ledakan yang terjadi, investigasi mengarah pada dugaan bahwa IED tersebut kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah.

Dujarric menambahkan, PBB telah mendesak pihak-pihak terkait agar kasus ini diusut tuntas dan diproses secara hukum oleh otoritas nasional. Langkah itu dinilai penting untuk membawa pelaku ke pengadilan dan memastikan adanya pertanggungjawaban pidana atas serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru