Jakarta, MI - Memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran mendapat sorotan dari Anggota Komisi I DPR RI, Oleh Soleh. Ia mengingatkan bahwa eskalasi perang di kawasan Timur Tengah berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap stabilitas geopolitik dan perekonomian global.
Ketegangan terbaru terjadi setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan ke wilayah Iran pada Selasa (9/6/2026) sore waktu setempat. Serangan tersebut disebut sebagai respons atas jatuhnya helikopter tempur Apache milik Angkatan Darat AS di dekat Selat Hormuz sehari sebelumnya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Iran berada di balik insiden jatuhnya helikopter tersebut. Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan AS menyasar Pulau Qeshm yang berada di kawasan Selat Hormuz. Sebuah proyektil juga dilaporkan menghantam Kota Sirik yang merupakan salah satu pelabuhan penting di Iran.
Menanggapi perkembangan itu, Oleh Soleh mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil peran aktif di berbagai forum internasional. Menurutnya, Indonesia perlu mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama komunitas internasional agar segera bertindak menghentikan eskalasi konflik sebelum meluas.
“Kami meminta pemerintah Indonesia untuk terus mendorong PBB dan komunitas internasional agar segera mengambil langkah konkret menghentikan konflik ini. Semua pihak harus mengupayakan terwujudnya kembali gencatan senjata dan menahan diri dari tindakan yang dapat memperburuk keadaan,” ujar Oleh Soleh, Rabu (10/6/2026).
Mantan Wakil Ketua DPRD Jawa Barat itu menilai perang yang berkepanjangan tidak hanya mengancam keamanan kawasan, tetapi juga dapat memicu ketidakpastian ekonomi dunia. Salah satu sektor yang paling rentan terdampak adalah energi, mengingat Timur Tengah merupakan wilayah strategis bagi pasokan minyak global.
“Jika konflik ini terus bereskalasi, suasana geopolitik dunia akan semakin memanas. Dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara yang terlibat, tetapi juga seluruh dunia, termasuk pada sektor ekonomi global dan harga energi,” tegasnya.
Oleh menambahkan, Indonesia harus tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif dengan terus mengedepankan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan dialog damai.
Selain konflik AS-Iran, ia juga mengingatkan dunia internasional agar tidak mengabaikan persoalan Palestina yang hingga kini belum menemukan penyelesaian. Menurutnya, upaya mewujudkan perdamaian global harus berjalan beriringan dengan perjuangan mengakhiri penjajahan terhadap rakyat Palestina.
“Indonesia harus terus menyuarakan perdamaian, penghentian perang, dan yang tidak kalah penting adalah penghentian penjajahan Israel terhadap Palestina. Kemerdekaan Palestina adalah harga mati dan harus terus diperjuangkan melalui jalur diplomasi internasional,” pungkasnya.

