Jakarta, MI– Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU semakin menghangat. Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengungkap sejumlah posisi strategis yang selama ini terbukti menjadi jalur utama menuju kursi tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Menurut Gus Ipul, jika menilik sejarah kepemimpinan NU dalam empat dekade terakhir, jabatan Katib Aam PBNU memiliki rekam jejak paling kuat dalam melahirkan Ketua Umum PBNU. Sejumlah tokoh besar NU seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi, hingga KH Yahya Cholil Staquf pernah menduduki posisi tersebut sebelum terpilih memimpin PBNU.
"Kalau ditarik dalam sekitar 40 tahun terakhir, tiga Ketua Umum PBNU sebelumnya pernah menjadi Katib Aam. Itu menunjukkan posisi tersebut memiliki rekam jejak yang cukup kuat dalam melahirkan pemimpin NU," ujar Gus Ipul.
Tak hanya Katib Aam, Gus Ipul juga menilai posisi Sekretaris Jenderal PBNU dan Ketua PWNU Jawa Timur merupakan jalur politik organisasi yang memiliki peluang besar melahirkan pemimpin NU berikutnya. Ia mencontohkan KH Idham Chalid yang pernah menjabat Sekjen PBNU sebelum menjadi Ketua Umum, serta KH Hasyim Muzadi yang mengawali kiprah nasionalnya dari kursi Ketua PWNU Jawa Timur.
"Kalau melihat statistik, yang pernah menjadi Sekjen punya peluang, yang pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Timur punya peluang, dan yang pernah menjadi Katib Aam juga punya peluang," tegasnya.
Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi mengenai sejumlah tokoh yang saat ini disebut-sebut berpeluang maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU 2026. Salah satu nama yang ramai diperbincangkan adalah Menteri Agama, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, yang belakangan disebut memiliki peluang besar dalam dinamika suksesi kepemimpinan NU.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU saat ini, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, juga telah memberikan sinyal kesiapan untuk kembali maju dalam pemilihan mendatang. Ia menyatakan masih memiliki "utang janji" yang ingin dituntaskan dalam periode kepemimpinannya.
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026. Sebelum agenda besar tersebut, NU akan lebih dahulu menggelar Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) pada 20–21 Juni 2026 di Pondok Pesantren Ploso, Kediri, Jawa Timur.**

