Jakarta, MI - Publik kembali menyoroti Setyo Budiyanto setelah pernyataannya yang menyinggung eks tim Mawar yang kini menjabat Dirjen Bea Cukai.
Sosok yang kini memimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu bukanlah orang baru di dunia penegakan hukum. Sebelum menduduki kursi Ketua KPK, Setyo Budiyanto lama berkarier di Kepolisian Republik Indonesia hingga meraih pangkat Komisaris Jenderal Polisi atau jenderal bintang tiga.
Menariknya, di balik kiprahnya itu, salah satu anaknya juga ikut berkarier di institusi kepolisian. Putranya, Kompol Rheditya Alfa Hendy, tercatat aktif menangani sejumlah kasus narkotika berskala besar hingga penugasan di bidang pengawasan industri dan perdagangan.
Rheditya Alfa Hendy adalah perwira polisi yang saat ini bertugas sebagai Kepala Unit (Kanit) 3 Subdit 1 Industri dan Perdagangan (Indag) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya.
Profil Ketua KPK Setyo Budiyanto
Setyo Budiyanto lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 29 Juni 1967. Kariernya di kepolisian terus menanjak hingga mencapai pangkat Komisaris Jenderal Polisi sebelum kemudian dipercaya memimpin KPK.
Setyo didampingi oleh sang istri, Henny Setyobudi. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga anak, yaitu Rheditya Alfa Hendy, Adrian Bagaskara, dan Amanda Tiara Ayu Putri Setyobudi.
Dari ketiga anaknya, Rheditya Alfa Hendy menjadi yang paling banyak menyorot perhatian karena memilih jalan karier yang sama dengan sang ayah di institusi kepolisian.
Kiprah Rheditya Alfa Hendy di Kepolisian
Rheditya Alfa Hendy merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2016. Saat ini ia menjabat sebagai Kepala Unit 3 Subdirektorat 1 Industri dan Perdagangan (Indag) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.
Sebelum penugasan saat ini, Rheditya pernah bertugas sebagai Kanit 3 Satresnarkoba Polres Metro Jakarta Barat. Di posisi itu, ia dikenal aktif memimpin operasi pemberantasan narkotika lintas negara.
Sejumlah pengungkapan yang pernah ditanganinya berhasil membongkar jaringan narkoba internasional, mulai dari temuan pabrik gelap (clandestine laboratory) yang memproduksi tembakau sintetis, hingga penyitaan barang bukti dalam jumlah besar.
Dalam berbagai operasi tersebut, aparat menyita sekitar 416,7 kilogram sabu, lebih dari 1,2 ton ganja, serta mengungkap fasilitas produksi narkotika sintetis yang diduga terhubung dengan jaringan terorganisasi.
Prestasi Rheditya di dunia penegakan hukum juga sempat mendapat pengakuan di level internasional.
Ia pernah mewakili Indonesia dalam menerima penghargaan dari International Law Enforcement Academy (ILEA) atas kontribusi dalam penanganan kejahatan transnasional. Tak hanya itu, Rheditya juga meraih penghargaan Outstanding Operational Success dari United States Department of State atas keberhasilan operasi pemberantasan jaringan narkotika.
Penghargaan-penghargaan tersebut menjadi salah satu bukti apresiasi terhadap kinerja aparat Indonesia dalam memerangi kejahatan lintas negara.
Alih Fokus ke Pengawasan Perdagangan
Setelah cukup lama berkutat di kasus narkotika, kini fokus penugasan Rheditya bergeser ke bidang industri dan perdagangan.
Sebagai Kepala Unit 3 Subdit 1 Indag Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Rheditya kini banyak terlibat dalam pengawasan distribusi bahan pokok, stabilitas harga, hingga pemantauan potensi pelanggaran perdagangan.
Di lapangan, kegiatannya mencakup inspeksi pasar tradisional maupun modern untuk memastikan pasokan kebutuhan masyarakat tetap aman.
Fokus pengawasannya juga menyasar komoditas penting seperti beras, minyak goreng, gula, daging, dan bahan pangan lain yang memengaruhi inflasi serta daya beli masyarakat.
Selain itu, langkah-langkah pengawasan ini juga diarahkan untuk mencegah praktik penimbunan, gangguan distribusi, hingga potensi manipulasi perdagangan.
Dengan pengalaman panjang di bidang penegakan hukum, termasuk saat menangani kasus-kasus narkotika, Rheditya kini membawa pendekatan operasional tersebut ke sektor industri dan perdagangan. Di sisi lain, sang ayah, Setyo Budiyanto tetap menjalankan tugasnya sebagai Ketua KPK.
