Jakarta, MI - Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek gas raksasa Lapangan Abadi, Blok Masela, di Laut Arafura, Maluku, pada Kamis (16/7/2026).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan peresmian proyek akan dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo.
"Nanti kita lihat ya. Tapi besok Insya Allah Pak Presiden akan meresmikan groundbreaking Blok Masela," ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Kamis (16/7/2026).
Namun, Bahlil belum memastikan apakah Prabowo akan hadir langsung di lokasi proyek di Maluku atau meresmikannya secara virtual.
Lapangan Abadi merupakan salah satu proyek gas terbesar di Indonesia dengan cadangan gas mencapai sekitar 6,97 triliun kaki kubik (TCF). Besarnya potensi tersebut membuat Blok Masela menjadi salah satu proyek energi paling strategis bagi pemerintah.
Meski menyimpan cadangan gas yang melimpah, proyek ini tak kunjung berproduksi. Kontrak bagi hasil Blok Masela telah diteken pemerintah dan Inpex Corporation pada 16 November 1998, saat Presiden B.J. Habibie menjabat. Hampir 30 tahun berlalu, proyek tersebut baru memasuki tahap pembangunan.
Perjalanan Blok Masela diwarnai berbagai kendala, mulai dari proses eksplorasi, penyusunan Plan of Development (POD), perubahan kebijakan pemerintah, hingga penyesuaian skema investasi yang membuat proyek berulang kali tertunda.
Awalnya, kontrak PSC Blok Masela berlaku selama 30 tahun dan akan berakhir pada 2028. Namun, pemerintah memperpanjang masa kontrak selama 20 tahun hingga 2048 pada Oktober 2017. Setelah itu, kontrak kembali diperpanjang selama tujuh tahun sehingga kini berlaku hingga 2055.
Perpanjangan tersebut diberikan karena proyek belum memasuki fase produksi, sementara Inpex tetap menyatakan komitmennya untuk mengembangkan Lapangan Abadi.
Tambahan masa kontrak juga menjadi kompensasi atas perubahan kebijakan pemerintah yang mengharuskan fasilitas kilang gas alam cair (LNG) dibangun di darat (onshore), menggantikan rencana awal yang menggunakan fasilitas terapung di laut (offshore).
Saat ini, pengelolaan Blok Masela dipimpin oleh Inpex Masela Ltd yang menguasai 65% hak partisipasi (Participating Interest/PI) sekaligus bertindak sebagai operator proyek.
Awalnya, Inpex bermitra dengan Shell Upstream Overseas Services yang memegang sisa 35% PI. Namun, perusahaan energi asal Inggris tersebut memutuskan mundur dari proyek Lapangan Abadi setelah bertahun-tahun pengembangannya tak kunjung rampung.
Porsi saham Shell kemudian diambil alih oleh dua perusahaan. PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) menguasai 20% PI, sedangkan Petronas mengambil 15% PI.
Proses akuisisi tersebut resmi ditandai dengan penandatanganan perjanjian jual beli hak partisipasi pada 25 Juli 2023. Selanjutnya, pengalihan kepemilikan itu memperoleh persetujuan Menteri ESDM pada 4 Oktober 2023, sehingga struktur kepemilikan baru Blok Masela resmi berlaku.
