Jakarta, MI - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah wajah dunia kerja. Di tengah perubahan yang berlangsung begitu cepat, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengingatkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), penguasaan keterampilan digital, dan kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi utama agar tenaga kerja Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan global.
Pesan itu disampaikan Yassierli saat membuka AI Career Boost Day 2026, pameran kesempatan kerja yang digelar di Ruang Tridharma Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, tantangan ketenagakerjaan saat ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan kerja sama erat antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, hingga para pencari kerja untuk menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih kuat dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
"Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hari ini kita menyaksikan kolaborasi yang luar biasa. Pemerintah hadir bersama dunia usaha, perguruan tinggi, dan para pencari kerja. Sinergi seperti inilah yang harus terus diperkuat karena tantangan dunia kerja ke depan tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja," ujar Yassierli.
Ia menjelaskan, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 280 juta jiwa dan angkatan kerja sekitar 155 juta orang, penciptaan lapangan pekerjaan merupakan tanggung jawab bersama seluruh kementerian dan lembaga.
"Sering muncul pertanyaan, apakah Kementerian Ketenagakerjaan yang menciptakan lapangan kerja? Saya selalu menjawab bahwa penciptaan lapangan kerja adalah tanggung jawab bersama. Ada Kementerian Investasi, Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan, Kementerian Kehutanan, dan banyak kementerian lainnya. Semua harus bergerak bersama agar amanat konstitusi bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pekerjaan benar-benar terwujud," katanya.
Untuk menyiapkan tenaga kerja yang siap memasuki dunia industri, Kemnaker memperluas Program Magang Nasional dengan tambahan anggaran yang memungkinkan program tersebut menjangkau sekitar 150 ribu peserta pada tahun ini.
Yassierli mengatakan seluruh peserta akan memperoleh uang saku yang dibayarkan langsung oleh pemerintah selama enam bulan masa magang.
"Peserta magang di wilayah Jakarta menerima uang saku sekitar Rp5,7 juta setiap bulan. Sementara untuk Bekasi dan Karawang sekitar Rp5,9 juta per bulan. Seluruh pembayaran dilakukan langsung ke rekening peserta sehingga prosesnya lebih transparan," jelasnya.
Ia mengungkapkan, pada pelaksanaan sebelumnya program magang telah diikuti sekitar 100 ribu peserta. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen langsung direkrut menjadi karyawan oleh perusahaan tempat mereka magang bahkan sebelum masa magang selesai.
"Perusahaan sekarang justru berebut kuota peserta magang. Namun kami memastikan seluruh proses berjalan transparan. Setiap lowongan diverifikasi agar sesuai dengan kompetensi peserta. Kami tidak ingin lulusan teknik justru ditempatkan menjadi resepsionis atau pekerjaan lain yang tidak sesuai dengan keahliannya," tegas Yassierli.
Selain memperluas program magang, Kemnaker juga menambah anggaran sekitar Rp1,7 triliun untuk memperkuat pelatihan vokasi bagi sekitar 300 ribu peserta.
Pelatihan tersebut tidak hanya mencakup keterampilan konvensional seperti pengelasan, otomotif, teknisi pendingin ruangan (AC), dan elektronika, tetapi juga kompetensi berbasis teknologi seperti smart farming, smart operation, hingga smart building.
"Untuk bidang pengelasan misalnya, lulusan Balai Latihan Kerja kami banyak yang sudah ditunggu perusahaan luar negeri dengan kisaran gaji mencapai Rp20 juta per bulan. Ini membuktikan bahwa kompetensi yang tepat akan selalu dibutuhkan oleh industri," ujarnya.
Saat ini, Kemnaker mengoperasikan 42 Balai Latihan Kerja (BLK) serta memperkuat sinergi dengan BLK milik pemerintah daerah agar akses pelatihan semakin luas.
Yassierli menilai perkembangan AI telah menggeser kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara. Ia mencontohkan pengalaman saat berkunjung ke Hyderabad, India, yang kini berkembang menjadi salah satu pusat talenta digital dunia.
"Dalam satu tahun terakhir, perekrutan tenaga kerja di bidang digital dan AI di Hyderabad meningkat sekitar 11 persen. Sebaliknya, kebutuhan tenaga kerja administrasi umum justru turun sekitar 9 persen. Ini menjadi bukti bahwa transformasi dunia kerja sedang berlangsung sangat cepat," katanya.
