Jakarta, MI - Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen, angka tersebut masih melampaui proyeksi sebagian besar ekonom yang memperkirakan pertumbuhan hanya berada di kisaran 5,1 persen.
Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, menilai capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi nasional masih cukup baik di tengah tekanan ekonomi global. Namun, ia mengingatkan agar perlambatan ini tidak dianggap sebagai persoalan biasa karena mencerminkan masih adanya tantangan struktural yang harus segera dibenahi.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang masih berada di atas ekspektasi pasar. Namun, perlambatan ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Ini bukan sinyal krisis, tetapi menjadi indikator bahwa struktur pertumbuhan ekonomi kita masih menghadapi persoalan mendasar yang perlu segera diselesaikan," kata Amin, Jumat (7/8/2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pada triwulan I 2026, konsumsi masyarakat terdongkrak oleh momentum Ramadan, Idulfitri, dan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR). Namun setelah faktor musiman tersebut berakhir, laju konsumsi ikut melambat menjadi sekitar 5,06 persen pada triwulan II.
Selain itu, belanja pemerintah juga mengalami penurunan cukup signifikan, dari 21,81 persen menjadi 15,97 persen. Kondisi tersebut ikut menahan laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Amin, ketergantungan terhadap konsumsi rumah tangga membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat dipengaruhi faktor musiman.
"Selama konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin utama pertumbuhan, ekonomi kita akan cenderung naik saat ada momentum belanja besar, kemudian melambat ketika momentum itu selesai. Karena itu kita membutuhkan sumber pertumbuhan baru yang lebih kuat dan berkelanjutan," ujarnya.
Ia menilai pemerintah perlu mempercepat diversifikasi mesin pertumbuhan melalui peningkatan investasi produktif, penguatan sektor manufaktur, serta perluasan ekspor produk bernilai tambah tinggi agar ekonomi tidak hanya bertumpu pada konsumsi domestik.
Amin juga menyoroti dua persoalan besar yang masih membayangi perekonomian nasional, yakni melemahnya daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, serta belum optimalnya transformasi industri.
"Tanpa peningkatan produktivitas dan kualitas investasi, akan sulit bagi Indonesia keluar dari kisaran pertumbuhan lima persen. Yang kita perlukan bukan hanya pertumbuhan tinggi, tetapi juga pertumbuhan yang berkualitas dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tegasnya.
Ia menambahkan, indikator keberhasilan ekonomi tidak hanya diukur dari besarnya angka PDB, tetapi juga dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, dan semakin kuatnya kelas menengah sebagai motor konsumsi jangka panjang.
Pandangan tersebut sejalan dengan kajian LPEM FEB Universitas Indonesia yang menyebut perlambatan ekonomi triwulan II dipengaruhi berakhirnya efek musiman Ramadan dan Idulfitri, melemahnya konsumsi masyarakat, tingginya harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya biaya produksi dunia usaha.
Meski demikian, Amin melihat masih ada sinyal positif dari sisi investasi. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tercatat tumbuh 6,87 persen, menjadi pertumbuhan tercepat dalam satu tahun terakhir.
"Capaian investasi ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia masih terjaga. Momentum ini harus dimanfaatkan pemerintah untuk mempercepat investasi yang benar-benar produktif dan menciptakan lapangan kerja," katanya.
Ia mendorong pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat sembari mempercepat realisasi investasi, memperkuat industri manufaktur, memperluas program hilirisasi, serta meningkatkan daya saing ekspor nasional.
"Indonesia membutuhkan fondasi pertumbuhan yang lebih seimbang, yakni konsumsi yang tetap kuat, investasi yang produktif, industri yang kompetitif, serta ekspor bernilai tambah. Dengan struktur ekonomi seperti itu, Indonesia akan jauh lebih tangguh menghadapi gejolak global dan semakin dekat menuju negara berpendapatan tinggi," ujar Amin.
Menutup keterangannya, Amin menegaskan perlambatan ekonomi pada triwulan II 2026 harus menjadi momentum untuk mempercepat reformasi struktural yang telah dirancang pemerintah.
"Program-program strategis sudah tersedia. Tantangan kita sekarang adalah memastikan implementasinya berjalan lebih cepat, konsisten, dan tepat sasaran. Itulah fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045, dengan mengubah orientasi ekonomi dari yang selama ini bertumpu pada konsumsi menjadi ekonomi yang digerakkan oleh produktivitas," pungkasnya.
