Jakarta, MI— Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mendesak pemerintah segera menuntaskan pembangunan Bandara Singkawang, Kalimantan Barat, khususnya perluasan apron dan taxiway agar bandara tersebut dapat beroperasi secara maksimal dan mendukung pertumbuhan transportasi udara di wilayah utara Kalbar.
Dalam rapat kerja dengan Kementerian Perhubungan, Lasarus mengungkapkan bahwa status KPBU Bandara Singkawang telah dicabut sehingga pengembangan fasilitas bandara kini dapat didanai melalui APBN. Namun, anggaran yang tersedia dinilai masih terlalu kecil dan belum memadai untuk memperluas apron.
“Bandara Singkawang sudah melayani dua penerbangan komersial setiap hari. Kalau satu pesawat sedang parkir di apron, pesawat lain tidak bisa masuk. Ini persoalan yang harus segera diselesaikan,” tegas Lasarus.
Menurut Lasarus, keterbatasan apron menjadi persoalan serius karena Bandara Singkawang berpotensi menjadi bandara alternatif apabila terjadi gangguan operasional di Bandara Supadio Pontianak.
“Kalau tiba-tiba ada gangguan di Pontianak, bandara terdekat adalah Singkawang. Tapi dengan kondisi apron saat ini, fungsi bandara belum bisa maksimal,” ujar Ketua DPD PDI Perjuang Kalimantan Barat itu.
Politisi PDI Perjuangan itu menilai pemerintah perlu segera mengalokasikan anggaran sekitar Rp60 miliar hingga Rp70 miliar untuk memperluas apron agar mampu menampung minimal dua hingga tiga pesawat secara bersamaan.
“Saya rasa anggarannya tidak terlalu besar. Yang penting bandara yang sudah beroperasi ini bisa berfungsi maksimal dan tidak setengah-setengah,” katanya.
Bandara Singkawang yang diresmikan pada Maret 2024 berdiri di atas lahan sekitar 151 hektare di Kelurahan Pangmilang, Kecamatan Singkawang Selatan. Bandara ini memiliki terminal penumpang seluas 8.000 meter persegi dengan kapasitas sekitar 335.800 hingga 400.000 penumpang per tahun.
Landasan pacunya telah diperpanjang menjadi 2.000 meter sehingga mampu melayani pesawat berbadan sedang seperti Airbus A320. Selain itu tersedia fasilitas taxiway sepanjang 200 meter, terminal kargo seluas 312 meter persegi, area parkir, fasilitas keselamatan penerbangan, serta berbagai sarana pendukung operasional bandara.
Saat ini Bandara Singkawang telah melayani penerbangan komersial reguler yang menghubungkan Singkawang dengan Jakarta dan wilayah lainnya, sehingga keberadaan fasilitas pendukung dinilai harus segera ditingkatkan untuk mengimbangi pertumbuhan lalu lintas penerbangan.
Lasarus mengingatkan pemerintah agar tidak membiarkan bandara yang telah dibangun dengan investasi besar justru tidak dapat dimanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan fasilitas pendukung.
“Jangan sampai kita sudah membangun bandara yang bagus, sudah operasional, tetapi kapasitas pesawatnya tidak mendukung karena apron dan taxiway-nya belum memadai. Bandara Singkawang harus dituntaskan agar benar-benar menjadi penggerak konektivitas dan ekonomi Kalimantan Barat,” pungkasnya.**

