Dirjen Tatang: Kunci SDM Unggul Ada pada Kolaborasi, Bukan Sekadar Skill Individu

Jakarta, MI - Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forum Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) Tahun 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan kompeten di Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK Kemendikdasmen, Tatang Mutaqqin, menekankan bahwa momen Rakornas ini tidak sekadar seremoni, melainkan menjadi ajang strategis untuk mempererat kerja sama lintas pihak.
“Momen ini tentu bukan sekadar seremonial. Bagi kita, ini adalah momentum penting untuk mempererat rasa kebersamaan dalam meningkatkan kolaborasi. Karena kata kunci dari keterampilan bukan hanya kemampuan individual, tetapi juga kemampuan bekerja sama. Dalam menghasilkan sebuah produk, dibutuhkan orkestrasi dari berbagai keahlian, dari yang sederhana hingga yang kompleks,” ujar Tatang dalam kegiatan yang berlangsung di Auditorium Ki Hajar Dewantara, Lantai 5 Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Ia juga menyinggung dinamika birokrasi yang semakin kompleks, terutama dengan adanya struktur kepemimpinan yang lebih luas di kementerian. “Karena memang kalau sudah ada perintah dari atasan itu agak sulit dihindari. Apalagi sekarang di kementerian, atasannya tidak hanya satu, tapi ada menteri dan dua wakil menteri. Jadi koordinasi menjadi semakin penting,” tambahnya.
Menurut Tatang, peran LSK sangat krusial sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjamin kualitas sertifikasi kompetensi. Ia mengapresiasi para pelaku di lembaga sertifikasi yang terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia.
“LSK merupakan mitra strategis pemerintah. Tanpa ikhtiar dan upaya Bapak-Ibu semua, kualitas sertifikasi dan cita-cita mencetak SDM unggul tidak mungkin tercapai. Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh insan LSK yang terus bergerak di bidang ini,” katanya.
Ia juga mencontohkan pentingnya sertifikasi kompetensi dalam dunia kerja global. “Saya ingat betul, meskipun saya punya kemampuan bekerja di bidang bangunan di Australia, tanpa sertifikat kompetensi akan sulit bekerja di negara lain. Kalau tidak punya sertifikat, bisa dianggap ilegal. Jadi ini penting untuk menjamin kualitas pekerjaan,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Tatang menyoroti tema Rakornas tahun ini yang berkaitan dengan kompetensi di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi membawa kemudahan, namun juga tantangan baru yang harus diantisipasi.
“Kita sedang berada di persimpangan sejarah. Hal-hal yang dulu rumit kini menjadi lebih mudah dengan teknologi. Tapi jangan sampai kemudahan ini disalahgunakan. Perubahan geopolitik pun kini sangat dipengaruhi oleh algoritma, termasuk kecerdasan buatan,” ujarnya.
Ia menyampaikan tiga catatan penting. Pertama, terkait relevansi kurikulum dan instrumen uji kompetensi. Menurutnya, proses sertifikasi harus melampaui kemampuan dasar seperti menghafal, dan lebih menekankan pada kemampuan berpikir kritis serta pemecahan masalah kompleks.
“Kita harus mengakui bahwa pekerjaan-pekerjaan dasar kini bisa dilakukan oleh software, termasuk teknologi seperti large language model (LLM). Karena itu, sertifikasi harus mengedepankan critical thinking, problem solving, serta kemampuan human centric seperti empati yang tidak bisa digantikan mesin,” tegasnya.
Kedua, ia menyoroti pentingnya pemerataan akses dan inklusivitas teknologi. Meski teknologi dapat menjembatani kesenjangan, tidak semua masyarakat memiliki akses yang sama.
“Teknologi bisa mendekatkan yang jauh, tetapi juga berpotensi memperlebar kesenjangan jika tidak dikelola dengan baik. Karena itu, kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk mengurangi kesenjangan digital, sehingga semua anak bangsa memiliki kesempatan yang sama,” jelasnya.
Ia juga mencontohkan pemanfaatan teknologi simulasi dalam pembelajaran vokasi, seperti di bidang kebidanan atau teknik kendaraan ringan, yang dapat meningkatkan efisiensi tanpa mengurangi kualitas praktik.
Ketiga, Tatang menekankan pentingnya agilitas atau ketangkasan dalam sistem sertifikasi. Menurutnya, perkembangan dunia kerja yang cepat menuntut sistem sertifikasi yang adaptif.
“Sertifikasi harus dinamis dan agile. Keterampilan terus berubah, sehingga lulusan tidak hanya butuh skill dasar, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan cepat. Ini menjadi kunci keberhasilan di dunia kerja,” katanya.
Ia mengutip hasil studi lembaga internasional seperti Bank Dunia dan GIZ yang menunjukkan bahwa lulusan vokasi memiliki keunggulan di awal karier, namun seringkali tertinggal dalam jangka panjang jika tidak didukung soft skill yang kuat.
“Di sinilah pentingnya memperkuat soft skill agar bisa terdeteksi dan diakui dalam sertifikasi kompetensi,” tambahnya.
Menutup sambutannya, Tatang mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Rakornas ini sebagai titik awal penguatan sinergi antara regulator dan pelaksana di lapangan.
“Saya yakin integritas dan profesionalisme Bapak-Ibu di forum LSK tidak diragukan. Kita mampu mengantar SDM Indonesia melompat lebih jauh ke depan,” ujarnya.
Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, ia secara resmi membuka sesi bincang kompetensi dalam Rakornas tersebut, seraya mengajak seluruh peserta untuk aktif berdiskusi dan berbagi gagasan.
“Selamat berdiskusi, selamat berbagi gagasan. Semoga capaian yang diraih hari ini tidak hanya memotivasi penerima penghargaan, tetapi juga menginspirasi seluruh insan LSK,” pungkasnya.
Topik:
