Jakarta, MI– Pemerintah resmi membentuk Institut Kelautan Indonesia (IKI) atau Ocean Institute of Indonesia (OII) sebagai langkah besar mereformasi pendidikan tinggi vokasi di sektor kelautan dan perikanan.
Kampus baru ini mengintegrasikan 11 politeknik di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjadi satu institusi yang difokuskan untuk mencetak sumber daya manusia unggul, memperkuat riset, dan mendorong lahirnya inovasi berbasis ekonomi biru.
Peresmian IKI menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat daya saing sektor kelautan nasional melalui transformasi pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan Indonesia memiliki potensi kelautan yang sangat besar sehingga membutuhkan tenaga ahli dan inovasi yang mampu mengelolanya secara berkelanjutan.
"Kelautan adalah harta karun yang harus diangkat oleh orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Ocean Institute of Indonesia akan menjadi salah satu backbone lahirnya inovasi-inovasi dan karya-karya besar di bidang kelautan," ujar Brian Yuliarto, Kamis (23/7/2026).
Menurut Brian, Institut Kelautan Indonesia tidak hanya menjadi pusat pendidikan vokasi, tetapi juga akan menjadi motor penggerak riset nasional dengan melibatkan dosen, peneliti, mahasiswa, serta berbagai perguruan tinggi mitra di seluruh Indonesia.
Pemerintah menargetkan lahirnya berbagai pusat keunggulan (center of excellence) yang fokus pada bidang-bidang strategis kelautan sekaligus mendorong tumbuhnya perusahaan rintisan berbasis teknologi maritim.
"Kami berharap di beberapa titik dapat dibangun center of excellence yang fokus pada bidang-bidang unggulan sehingga melahirkan produk inovasi di bidang kelautan, bahkan startup baru yang menjadikan sektor ini sebagai salah satu industri besar di Indonesia," katanya.
Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyatakan penyatuan 11 politeknik merupakan bagian dari transformasi menyeluruh pendidikan vokasi guna mendukung pembangunan ekonomi biru yang menjadi arah baru pengelolaan sumber daya kelautan Indonesia.
"Ini disatukan, diubah secara menyeluruh, mulai dari kurikulum pendidikannya hingga tujuan akhirnya. Kita mau menuju ekonomi biru dan mengimplementasikan ekonomi biru," tegas Trenggono.
Ia menjelaskan, perubahan tidak hanya menyentuh struktur kelembagaan, tetapi juga kurikulum, sistem organisasi, hingga orientasi lulusan agar lebih sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri kelautan modern.
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, setiap kampus akan dikembangkan dengan spesialisasi sesuai potensi daerah, sehingga mampu menghasilkan tenaga ahli yang benar-benar dibutuhkan sektor kelautan dan perikanan nasional.
"Kalau mencari ahli budidaya lobster misalnya di Dumai, ahli budidaya rumput laut di Kupang. Jadi setiap kampus memiliki spesifikasi dan tidak lagi menjalankan pola pendidikan yang sama," jelas Trenggono.
Melalui pembentukan Institut Kelautan Indonesia, pemerintah berharap lahir ekosistem pendidikan, riset, dan inovasi yang mampu memperkuat industri maritim nasional sekaligus menjadikan sektor kelautan sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.**
