Jakarta, MI – Di tengah suasana Ramadhan yang seharusnya membawa ketenangan dan refleksi spiritual, Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), justru mengajak publik menatap realitas global yang kian kompleks.
Ia menegaskan, dunia saat ini bukan hanya menghadapi ancaman geopolitik dan perang, tetapi juga dibayangi lima mega tren global yang dampaknya sama serius dan mendesak untuk ditangani.
Hal tersebut disampaikan AHY dalam acara buka puasa bersama keluarga besar Partai Demokrat di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Dalam sambutannya, AHY menekankan bahwa Ramadhan adalah momentum memperkuat iman sekaligus solidaritas kemanusiaan.
“Ramadhan menghadirkan ruang yang luas bagi kita untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Bulan ini mengajarkan kesabaran, keikhlasan mengendalikan diri, sekaligus memperkuat solidaritas kemanusiaan. Ketika kita menahan lapar dan haus, kita belajar merasakan penderitaan sesama,” ujarnya.
Namun, ia mengakui suasana Ramadhan tahun ini diliputi keprihatinan global. Konflik dan peperangan masih terjadi di berbagai belahan dunia, terutama di Timur Tengah.
“Ramadhan yang seharusnya menjadi pintu saling memaafkan, di sejumlah tempat justru berubah menjadi pintu saling menghancurkan. Ketenangan batin tergantikan oleh kecemasan, ketidakpastian, dan duka yang mendalam,” kata AHY.
Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh tinggal diam. “Hati, pikiran, dan doa kita selalu bersama saudara-saudara kita di wilayah konflik. Kita tidak ingin Timur Tengah menjadi flashpoint yang memicu perang lebih luas, apalagi sampai mengarah pada perang dunia ketiga. Kita harus ikut mencegahnya,” tegasnya.
AHY juga mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang menggelar rapat hingga larut malam di Istana Merdeka untuk membahas berbagai skenario dan dampaknya bagi Indonesia.
“Kami mengapresiasi keseriusan Bapak Presiden dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk dampaknya terhadap ekonomi, ketahanan energi, dan stabilitas nasional. Indonesia harus siap menghadapi segala risiko,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia harus terus mendorong dialog, deeskalasi, dan penyelesaian damai di Timur Tengah. “Tidak ada konflik yang tidak bisa diselesaikan dengan komunikasi yang tulus dan itikad baik. Tidak ada perbedaan yang tak bisa dijembatani jika kemanusiaan diletakkan di atas segalanya,” ucap AHY.
Di luar isu geopolitik, AHY memetakan lima mega tren global yang menurutnya menjadi tantangan besar abad ke-21.
Pertama, pemanasan global dan krisis iklim. “Ini bukan lagi ancaman masa depan, ini realitas hari ini. Banjir saat musim hujan, kekeringan saat kemarau, cuaca ekstrem di berbagai daerah menjadi wake up call bagi kita semua,” katanya.
Kedua, pertumbuhan populasi dunia yang berhadapan dengan keterbatasan sumber daya alam. Kondisi ini, menurutnya, dapat memicu kompetisi tajam antarnegara jika tidak dikelola dengan baik. “Indonesia yang kaya sumber daya alam tidak boleh lengah. Kita harus memastikan kekayaan itu benar-benar dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan terdistribusi secara adil,” tegasnya.
Ketiga, arus globalisasi dan urbanisasi yang kian cepat. AHY menyebut, sekitar 70 persen populasi dunia diproyeksikan tinggal di kawasan perkotaan. “Tantangannya bukan hanya soal lahan dan tata ruang, tetapi bagaimana kota mampu mengakomodasi laju urbanisasi tanpa memarginalkan warganya. Kita ingin pembangunan yang inklusif dan berkeadilan,” katanya.
Keempat, lompatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan dan robotika. “Kita berada di persimpangan jalan. Apakah artificial intelligence dan robotics akan menjadi peluang atau justru ancaman? Bangsa yang tertinggal akan menjadi penonton. Indonesia tidak boleh menjadi penonton. Teknologi harus menjadi instrumen pertumbuhan ekonomi, peningkatan produktivitas, dan pembukaan lapangan kerja,” ujarnya.
Kelima, meningkatnya kesenjangan atau widening gap, baik kesenjangan sosial, ekonomi, maupun antarwilayah. “Disparitas ini nyata dan terus menghantui banyak negara. Jika tidak ditangani dengan serius, ia bisa menjadi sumber instabilitas,” kata AHY.
AHY menegaskan bahwa Indonesia tidak imun terhadap berbagai tantangan tersebut. Karena itu, Partai Demokrat berkomitmen mengawal dan menyukseskan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Kita harus memastikan agenda pembangunan ekonomi berjalan di jalur yang benar. Bukan sekadar untuk dihafal, tetapi untuk diimplementasikan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya ketahanan pangan, energi, dan air bersih, serta penguatan sumber daya manusia. “Kita bisa membangun jalan, bendungan, rel kereta, dan infrastruktur fisik lainnya. Tapi pada akhirnya, yang paling penting adalah membangun manusianya. Pendidikan, layanan kesehatan, dan peningkatan kualitas human capital harus menjadi prioritas,” tegas AHY.
Sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, AHY juga menyampaikan komitmennya dalam mendorong pembangunan infrastruktur yang merata.
“Infrastruktur adalah tulang punggung pembangunan bangsa. Konektivitas antarwilayah akan menentukan keberhasilan transformasi ekonomi kita. Kami mohon doa dan dukungan agar tugas ini dapat kami jalankan dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.

