Jakarta, MI – Polemik ijazah sekolah menengah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali memanas. Sayembara untuk menemukan dan menunjukkan dokumen kelulusan Gibran kini telah mencapai Rp1,153 miliar, setelah seorang purnawirawan TNI menyatakan komitmen menyumbang Rp100 juta.
Pakar hukum tata negara Denny Indrayana mengungkapkan tambahan komitmen tersebut berasal dari Laksamana TNI (Purn) Moeryono Aladin, yang disebut mewakili Forum Purnawirawan Prajurit TNI.
Dengan tambahan itu, nilai hadiah sayembara meningkat dari sekitar Rp1,05 miliar menjadi Rp1.153.050.000.
“Alhamdulillah ada tambahan sumbangan Rp100 juta dari Bapak Laksma TNI (Purn.) Moeryono Aladin. Ia mewakili Forum Purnawirawan Prajurit TNI. Sehingga hadiah sayembara untuk menunjukkan ijazah beliau menjadi Rp1.153.050.000,” kata Denny, dikutip Kamis (20/8/2026).
Denny mengatakan sayembara tersebut masih terbuka bagi masyarakat maupun pihak lain yang ingin menambah nilai hadiah. Namun, uang tidak harus langsung ditransfer.
Menurut dia, calon penyumbang cukup menyampaikan komitmen. Dana baru berkaitan dengan hadiah apabila dokumen yang menjadi objek sayembara benar-benar ditunjukkan.
“Bagi yang ingin ikut menyumbang, silakan japri saya. Nama bisa kami rahasiakan, dana tidak perlu ditransfer, cukup komitmen. Kecuali ijazah SMA/sederajat Gibran memang ditunjukkan. Salam Integritas!” ujar Denny.
Sayembara tersebut muncul di tengah polemik mengenai dokumen pendidikan Gibran yang terus menjadi sorotan publik.
Denny sebelumnya secara terbuka menantang Gibran untuk menunjukkan ijazah sekolah menengah atau dokumen kelulusan sederajatnya.
Ia membandingkan permintaan tersebut dengan keterbukaan Gibran ketika pernah menunjukkan ijazah sarjananya kepada wartawan.
“Minta Mas Gibran tunjukkan saja ijazah sekolah menengah atas atau sederajat tersebut, sebagaimana dia pernah terbuka mengundang wartawan dan menunjukkan ijazah S1-nya,” kata Denny.
Masuknya nama purnawirawan TNI dalam daftar pihak yang memberikan komitmen hadiah membuat polemik ini tidak lagi sekadar menjadi perdebatan antara individu.
Namun, berdasarkan informasi yang tersedia, Moeryono disebut memberikan komitmen atas nama Forum Purnawirawan Prajurit TNI. Tidak ada keterangan bahwa institusi TNI aktif terlibat dalam sayembara tersebut.**
