Menilik Peran Iswan Ibrahim Dirut Isargas di Kasus Suap PLTU Riau-1, Kini Tersangka Korupsi PGN!

Adelio Pratama
Adelio Pratama
Diperbarui 12 Agustus 2024 2 jam yang lalu
Iswan Ibrahim  (II) Direktur Utama PT Isargas (Foto: Istimewa)
Iswan Ibrahim (II) Direktur Utama PT Isargas (Foto: Istimewa)

Jakarta, MI - Iswan Ibrahim (II) Direktur Utama PT Isargas yang sempat mengakui memberikan uang Rp 250 juta kepada Eni Maulani Saragih yang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR saat itu, kini tersangkut kasus dugaan korupsi korupsi jual beli gas di PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

Iswan ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Danny Praditya Direktur Komersial PT PGN periode 2016-2019 sekaligus mantan Direktur Utama PT Inalum berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor Sprindik 79/DIK.00/01/05/2024 tanggal 17 Mei 2024 dan Surat Perintah Penyidikan Nomor Sprindik 80/DIK.00/01/05/2024 tanggal 17 Mei 2024.

Pun, keduanya sudah dilarang bepergian ke luar negeri.

Kembali kepada kasus Eni Maulani yang saat itu terdakwa kasus dugaan suap PLTU Riau-1. Bahwa dalam kesaksiannya di muka persidangan, Iswan menyatakan aliran dana tersebut diberikan secara bertahap yakni pada 7 Juni 2018 dan 11 Juli 2018. 

Tetapi Iswan mengaku bahwa pemberian uang tersebut tidak berkaitan dengan jabatan Eni di DPR yang membidangi sektor energi. Di sisi lain, perusahaan Iswan juga bergerak di bidang yang sama. 

Menurut dia, pemberian uang itu sekadar menjaga hubungan baik dengan Eni yang dikenalnya sejak dulu sebelum Eni menjadi anggota DPR. Uang itu juga diberikan untuk keperluan pencalonan suami Eni, M. Al Khadziq, di Pilkada Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. 

"Beliau [Eni] minta bantuan untuk memenangkan Pilkada yang diikuti suaminya," kata Iswan di Pengadilan Tipikor, Selasa (8/1/2019). 

Berdasarkan kronologi yang diceritakan kepada Jaksa Penuntut Umum, Iswan pada mulanya mengaku permintaan dana oleh Eni hanya sebuah candaan mengingat Eni dianggap orang yang mampu. 

Dia juga mengaku diundang Eni ke kantornya di DPR. Beberapa hari kemudian, permintaan dana tersebut nyatanya tidak main-main setelah pesan instan WhatsApp masuk ke dalam ponselnya terkait kesediaan Iswan untuk memberikan bantuan berupa uang. 

Atas alasan kekerabatan, Iswan pun menyanggupinya. Eni kemudian mengirimkan orang bernama Indra ke kantor Iswan di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Indra kemudian memberikan nomor rekening kepada staf keuangan Iswan. 

"Saya perintahkan bagian keuangan saya yang biasa menemui Indra dan mengirim Rp200 juta dari rekening perusahaan ke rekening Indra," ujarnya. 

Sementara itu, Eni disebut membutuhkan dana lagi untuk acara syukuran kemenangan pilkada suaminya. Permintaan itu pun kembali disanggupi Iswan yang memberikan Rp50 juta. 

Uang tersebut diberikan secara tunai kepada Eni melalui Indra. "Uang diambil dari rekening perusahaan namun menjadi tanggung jawab pribadi saya," kata Iswan. 

Menanggapi hal itu, Eni menyatakan bahwa kekerabatannya dengan Iswan terjalin cukup baik. Iswan menurutnya adalah partner bisnis. Iswan kerap kali memberikan bantuan kepadanya termasuk berupa dana. 

Namun, dia menegaskan bantuan dana Rp 250 juta itu tidak ada kaitannya dengan jabatan Eni di DPR. 

Eni terima gratifikasi dari Iswan?

Berdasarkan surat dakwaan, dalam kasus ini Eni didakwa menerima gratifikasi dari beberapa orang salah satunya penerimaan dari Iswan Ibrahim selaku Presiden Direktur PT Isargas sejumlah Rp250 juta. 

Selain itu, Eni Saragih didakwa menerima suap dari pemegang saham PT Blackgold Natural Resources Limited, Johanes Budisutrisno Kotjo sebesar Rp4,75 miliar. 

KPK mendakwa suap itu diberikan untuk memuluskan proses penandatanganan kerja sama proyek pembangunan PLTU Riau-1. Selain itu, Eni didakwa menerima gratifikasi senilai Rp5,6 miliar dan 40.000 dolar Singapura dari sejumlah direktur perusahaan di bidang minyak dan gas.  

Sebagian uang hasil gratifikasi tersebut diduga telah digunakan Eni untuk membiayai kegiatan Pilkada suaminya di Pilkada Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

KPK tetapkan Danny Praditya dan Iswan Ibrahim sebagai tersangka, selengkapnya di sini