Akibat Korsleting Listrik, Empat Rumah Sewa di Aceh Ludes Terbakar

Rizky Amin
Rizky Amin
Diperbarui 8 Juli 2024 20:38 WIB
Kebakaran yang menghanguskan rumah sewa di Desa Wih Pesam. (Foto: Antara)
Kebakaran yang menghanguskan rumah sewa di Desa Wih Pesam. (Foto: Antara)

Banda Aceh, MI - Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyebut empat unit rumah sewa semi permanen hangus terbakar di Desa Wih Pesam, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Aceh diduga akibat korsleting listrik.

“Kondisi terakhir api sudah berhasil dipadamkan. (Penyebab, red) diduga akibat korsleting listrik,” ujar Plt Kepala Pelaksana BPBA Fadmi Ridwan di Banda Aceh, Senin (8/7/2024).

Ia menyebut bencana kebakaran di kawasan permukiman itu terjadi pada Senin sore sekitar pukul 15.00 WIB. BPBD Bener Meriah mengerahkan tiga unit mobil pemadam kebakaran ke lokasi untuk pemadaman api. Turut dibantu masyarakat dan personel TNI/Polri di daerah itu.

Menurut Fadmi, empat unit rumah sewa tersebut merupakan milik Erwansyah (52) dan satu unit rumah yang terkena imbas milik ⁠Fatimah Syam (45). Dalam laporan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. “Untuk sementara korban mengungsi ke rumah saudara,” tuturnya.

Sebelumnya, BPBA mencatat sebanyak 99 kejadian bencana yang melanda wilayah Aceh hingga pertengahan tahun 2024 dengan total kerugian mencapai Rp55,8 miliar.

"Periode Januari hingga Juni 2024 Aceh dilanda 99 kejadian bencana, korban jiwa dua orang, dengan prakiraan kerugian mencapai Rp55,8 miliar,” ucap Fadmi.

Dari data itu, menurut dia, kebakaran permukiman merupakan bencana paling dominan di Aceh hingga pertengahan tahun dengan 39 kali kejadian yang menimpa 187 unit rumah. Bencana tersebut menyebabkan kerugian Rp39 miliar.

BPBA bersama semua unsur pemerintahan dan masyarakat Aceh terus berupaya meningkatkan mitigasi bencana agar jumlah kejadian dapat terus turun dari tahun ke tahun.

Pihaknya juga berharap dalam upaya pengurangan risiko bencana nanti akan terwujud sebuah langkah pemberdayaan masyarakat yang fokus pada kegiatan partisipatif dalam melakukan kajian, perencanaan, pengorganisasian, serta aksi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

“Langkah ini sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat atau komunitas yang mampu mengelola lingkungan dan mengurangi risiko bencana serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat Aceh,” ungkapnya. (AM)