Rusia Umumkan Gencatan Senjata di Mariupol, Semangat Tentaranya Melemah

Surya Feri
Surya Feri
Diperbarui 31 Maret 2022 17:52 WIB
Jakarta, MI - Rusia untuk pertama kali mengumumkan gencatan senjata di Mariupol untuk mengevakuasi warga sipil setelah 37 hari menginvasi Ukraina. Melalui gencatan senjata itu Moskow menyerukan partisipasi langsung PBB dan Palang Merah dalam mengevakuasi warga sipil dari kota pelabuhan Ukraina yang terkepung tersebut. Kementerian pertahanan Rusia menyatakan bahwa koridor kemanusiaan dari Mariupol ke Zaporizhzhia, melalui pelabuhan Berdiansk yang dikuasai Rusia, akan dibuka mulai pukul 10 pagi waktu setempat (07.00 GMT) pada hari ini, menurut kementerian itu. “Agar operasi kemanusiaan ini berhasil, kami mengusulkan untuk melaksanakannya dengan partisipasi langsung dari Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi dan Komite Internasional Palang Merah,” menurut pernyataan kementerian itu. Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan negara-negara Barat seharusnya tidak mencabut sanksi terhadap Moskow sampai semua pasukan Rusia meninggalkan Ukraina seperti dikutip Aljazeera.com, Kamis (31/3). Sedangkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bersumpah untuk memperjuangkan 'setiap meter' wilayah Ukraina. Sekalipun Rusia telah mengumumkan gencatan senjata di Mariupol, para pejabat Ukraina mengatakan serangan Rusia belum mereda di Chernihiv meskipun ada janji dari Moskow untuk mengurangi serangannya di sana. Dalam perkembangam lain Inggris menyatakan bahwa beberapa tentara Rusia di Ukraina telah menolak untuk melaksanakan perintah. Kepala Pusat Komunikasi pemerintah (GCHQ) Jeremy Fleming mengatakan ada bukti bahwa tentara Rusia memiliki moral yang rendah dan perlengkapan yang buruk. “Kami telah melihat tentara Rusia yang kekurangan senjata dan penurunan semangat, menolak untuk melaksanakan perintah, menyabotase peralatan mereka sendiri dan bahkan secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat mereka sendiri,” kata Fleming dalam pidatonya di Canberra di Australian National University, menurut sebuah transkrip sambutannya. Presiden ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan dia tidak mempercayai sumpah Rusia untuk mengurangi aktivitas militer dan bahwa militer Ukraina sedang bersiap-siap untuk pertempuran lebih lanjut di timur. “Kami tidak mempercayai siapa pun, tidak ada satu pun frasa yang indah,” kata Zelenskyy dalam pidato video kepada negara itu. Dia menambahkan bahwa pasukan Rusia sedang berkumpul kembali untuk menyerang wilayah Donbas timur.

Topik:

Rusia Ukraina