BMKG: Masyarakat NTT Waspada Bibit Siklon Tropis 96S

Nuramin Rizky
Nuramin Rizky
Diperbarui 4 April 2024 16:32 WIB
Kejadian bencana tanah longsor di Kabupaten Lembata, NTT. (Foto: ANTARA)
Kejadian bencana tanah longsor di Kabupaten Lembata, NTT. (Foto: ANTARA)

Larantuka, MI - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mewaspadai Bibit Siklon Tropis 96S yang menyebabkan peningkatan curah hujan dan berdampak pada kejadian bencana.

"Daerah pusaran angin masuk atau Sirkulasi Siklonik yang berada di sebelah Utara NTT atau Laut Flores telah meningkat menjadi Bibit Siklon Tropis 96S dan saat ini terpantau di Laut Sawu," kata Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang Sti Nenotek ketika dihubungi dari Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, Kamis (4/4/2024).

Ia menjelaskan Bibit Siklon Tropis 96S itu menyebabkan terbentuknya daerah pertemuan dan belokan angin di wilayah NTT sehingga meningkatkan curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat bahkan ekstrem di wilayah NTT.  

Bibit Siklon Tropis 96S itu dalam 24-48 jam ke depan bergerak perlahan ke arah Selatan-Barat Daya.

Menurut BMKG potensi menjadi Siklon Tropis dalam 24 jam ke depan atau hari Jumat masih rendah, sementara 48-72 jam ke depan atau hari Sabtu-Minggu berada pada kategori sedang-tinggi.  

Sti menerangkan seluruh wilayah kota dan kabupaten di NTT saat ini berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat.

Hal itu juga dipengaruhi oleh kondisi dinamika atmosfer yang menunjukkan adanya aktivitas Gelombang Atmosfer yang melintasi wilayah NTT yakni Gelombang Equatorial Rossby dan Madden Julian Oscillation (MJO).  

"Lalu suhu muka laut di perairan NTT masih hangat serta didukung dengan kondisi atmosfer yang labil dan lembap mulai dari lapisan bawah hingga atas mempengaruhi pembentukan awan-awan konvektif yang dapat menyebabkan cuaca ekstrem," kata Sti.

BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem ini yang diprakirakan berlaku hingga 9 April mendatang.

Sti mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kejadian bencana seperti banjir dan tanah longsor.

Ia menyebut wilayah NTT juga berada pada masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau sehingga ada potensi angin kencang berdurasi singkat, puting beliung, serta hujan secara sporadis dalam durasi singkat yang bersifat lokal.

"Namun perlu diwaspadai dampak lainnya seperti pohon tumbang dan sambaran petir," kata dia mengingatkan. (AM)