Konflik Rusia-Ukraina, Berdampak bagi Perekonomian Indonesia

Reina Laura
Reina Laura
Diperbarui 9 Maret 2022 22:33 WIB
Monitorindonesia.com - Konflik antara Rusia Vs Ukraina tidak akan selesai dalam jangka pendek, jika memperhatikan jalan pikiran Presiden Rusia, Vladimir Putin sulit ditebak. Bahkan, konflik kedua negara itu akan menghasilkan residu dan dampak kepada Indonesia, yang tidak hanya dari sektor ekonomi, tapi juga dari sisi hubungan bilateral Indonesia-Rusia dan Indonesia-Ukraina. Penilaian ini disampaikan Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia, Anis Matta saat membuka diskusi publik Gelora Talk bertajuk 'Membaca Akhir Konflik Rusia Vs Ukraina dan Bagaimana Posisi Indonesia?”, Rabu (9/3/2022). Untuk Indonesia, menurut Anis punya dua masalah besar di sini (konflik Rusia-Ukraina). Pertama adalah energi, mengingat Indonesia mengimpor minyak kira-kira 500.000 barel per hari. "Sekarang kita sudah menyaksikan kenaikan harga BBM di mana-mana. Dampaknya, ke sektor energi kita akan naik semuanya,” sebutnya. Kedua, harga pangan yang melambung tinggi, karena Indonesia adalah negara dengan tingkat keamanan yang relatif rapuh, mengingat beberapa komponen dari sembako masih diimpor dari negara lain. Bahkan kenaikan apa pun dari sektor pangan, akan berpengaruh terhadap harga pangan ke depan. “Jadi, di sini kita mendapatkan residu itu. Sementara, konfliknya terbuka. Tidak ada yang bisa membuat satu skenario yang fix sekarang ini akan ke mana arahnya. Semua kemungkinan bisa terjadi,” katanya. Jadi, lanjut Anis Matta, meski sebagian besar pihak kemungkinan berpikir bahwa perang ini akan segera diselesaikan Rusia, tetapi kenyataannya tidak. Kalau bicara di atas kertas, perimbangan kekuatan, satu operasi militer dengan skala penuh, mungkin Rusia bisa mengambil alih Ukraina hanya dalam beberapa hari, tetapi kenyataannya tidak terjadi. "Mungkin orang berpikir karena kehebatan perlawanan dari Ukraina. Saya berpikir terbalik, itu karena Rusia belum menggunakan seluruh kekuatannya. Itu berarti, dia (Putin) mempunyai rencana yang sampai sekarang belum dipahami orang banyak,” katanya. Oleh karena itu, mantan Wakil Ketua DPR RI ini memprediksikan perang antara Rusia dan Ukraina tidak akan selesai dalam jangka pendek, jika melihat dari jumlah pengungsi yang dalam kurun waktu 12 hari sudah mencapai 2 juta orang. Angka ini akan terus bertambah, dan tidak ada yang bisa memprediksi pertambahan angka pengungsi. Bisa saja mencapai 5 hingga 6 juta. “Kalau kita bicara angka 5 juta, itu sama dengan Singapura (jumlah penduduknya). Artinya, itu sendiri akan menjadi satu masalah kemanusiaan, masalah politik yang luar biasa besarnya. Ini berarti, bahwa konflik ini tidak akan selesai dalam jangka pendek,” sebut Anis sembari menambahkan bahwa masalah lain yang timbul adalah eskalasi sanksi ekonomi yang diberikan Rusia terus meningkat. Terakhir, sanksi penghentian impor minyak dari Rusia oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. Apalagi dengan memasukan Rusia ke dalam daftar sanksi, sama saja dengan satu pernyataan perang bagi seluruh pihak yang menetapkan sanksi. Kondisi sanksi ini mendekati situasi point of no return atau titik tidak bisa kembali, sehingga eskalasi sanksi ini akan menyebabkan konflik terjadi bukan hanya antara Rusia dengan Ukraina, tetapi juga Barat. "Hal ini terlihat dari makin banyak pihak-pihak yang terlibat, seperti melibatkan internasional fighter, termasuk suplai senjata terus-menerus yang dilakukan AS dan Eropa kepada Ukraina. Ini mungkin menurut saya menjadi salah satu alasan mengapa Putin tidak segera mengambil alih Ukraina. Dia ingin menciptakan masalah yang lebih besar lagi terlebih dahulu. Karena menurut dia, ini bukan konflik dengan Ukraina, melainkan konflik dengan Barat, akibat ekspansi yang terus-menerus dilakukan oleh NATO,” tuturnya.. Bahkan Anis menilai ekspansi yang terus-menerus, seperti usaha untuk mencekik Putin, dan ini adalah cara dia melawan cekikan dari NATO secara keamanan. Karena itu, persoalan refugee (perlindungan pengungsi) ini, akan menjadi masalah bagi negara-negara yang selama ini terlibat menekan atau memojokkan Rusia. "Dalam tiga kali perundingan Ukraina dan Rusia, tidak ada hasil sama sekali. Konflik ini akan terus memanjang yang mengakibatkan sendi-sendi tatanan global yang lama akan hancur, karena mengalami disfungsi mulai dari institusinya, sistemnya sampai hubungannya. Kemudian, muncul tatanan dunia baru," pungkas Anis Matta. (Ery)