Aktivitas Erupsi Gunung Ibu Lontarkan Abu Vulkanik Setinggi 5 Kilometer

Nuramin Rizky
Nuramin Rizky
Diperbarui 13 Mei 2024 09:45 WIB
Kolom abu vulkanik membumbung keluar setinggi lebih kurang 5.000 meter. (Foto: Antara)
Kolom abu vulkanik membumbung keluar setinggi lebih kurang 5.000 meter. (Foto: Antara)

Jakarta, MI - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekam aktivitas erupsi yang menghasilkan kolom abu setinggi lima kilometer dari puncak Gunung Ibu yang berada di barat laut Pulau Halmahera, Maluku Utara.  

Kepala PVMBG Hendra Gunawan dalam laporan yang diterima di Jakarta, Senin (13/5/2024) mengungkapkan letusan itu terjadi pagi ini pada pukul 09.12 WIT. "Suara dentuman dan gemuruh terdengar sampai ke pos pengamatan Gunung Ibu," ucapnya.
 
Hendra mengatakan kolom abu setinggi lima kilometer itu tampak berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Letusan itu terekam melalui alat seismogram dengan amplitudo maksimum 28 milimeter dan durasi sementara 5 menit 6 detik. Ketika laporan dibuat erupsi masih berlangsung.
 
PVMBG menerbitkan VONA color (Volcano Observatory Notice for Aviation) yang dipakai sebagai kode warna yang digunakan untuk memperingatkan dini erupsi gunung demi keamanan penerbangan. Kode warna VONA terdiri dari merah, oranye, kuning, dan hijau. "VONA colour Gunung Ibu dari oranye menjadi merah," ujar Hendra.
 
Sejak 8 Mei 2024, Gunung Ibu yang memiliki ketinggian 1.325 meter di atas permukaan laut itu berstatus siaga atau level III. PVMBG meningkat status gunung api bertipe strato itu akibat peningkatan aktivitas vulkanik dan kegempaan.
 
PVMBG merekomendasikan penduduk di sekitar Gunung Ibu agar tidak beraktivitas mendaki dan mendekati gunung itu dalam radius 3 kilometer dan perluasan sektoral berjarak 5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif. Jika terjadi hujan abu, maka masyarakat yang beraktivitas di luar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).
 
"Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di masyarakat, tidak menyebarkan narasi bohong, dan tidak terpancing isu-isu yang tidak jelas sumbernya. Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah," ungkang Hendra. (AM)