Komnas HAM akan Cek TKP Pembunuhan Brigadir J Besok, Didampingi Labfor Hingga Inafis

Rekha Anstarida
Rekha Anstarida
Diperbarui 14 Agustus 2022 09:30 WIB
Jakarta, MI - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akan mengecek tempat kejadian perkara (TKP) atau lokasi pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo di Duren Tiga, Jakarta Selatan pada Senin (15/8). "Senin Komnas HAM infonya mau melihat TKP," kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo kepada wartawan, Sabtu (13/8). Dedi tidak menjelaskan secara detail apa yang akan dilakukan Komnas HAM dalam peninjauan itu. Ia hanya mengatakan peninjauan Komnas HAM itu akan didampingi oleh tim Labfor hingga Inafis. "Akan dihadiri oleh Labfor, Inafis, dokpol, dan Itsus," kata Irjen Dedi Prasetyo. Sementara itu, Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara mengatakan pihaknya akan mengonfirmasi semua keterangan dan bukti-bukti yang sudah dikumpulkan Komnas HAM. Ia tidak menyebut bukti apa saja yang akan dikonfirmasi di lokasi kejadian. Akan tetapi ia berharap pengecekan tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengonfirmasi detil-detil kejadian yang ada. Sebagai informasi, dalam kasus pembunuhan Brigadir J ini, polisi telah menetapkan empat orang tersangka. Keempat tersangka tersebut adalah Irjen Ferdy Sambo, Brigadir Ricky Rizal atau RR, Bharada Richard Eliezer atau E, dan KM. Adapun peran tersangka, yakni Bharada Richard Eliezer atau Bharada E merupakan orang yang melakukan penembakan terhadap Brigadir J atas perintah Irjen Ferdy Sambo. Sementara tersangka kedua, Bripka RR turut membantu dan menyaksikan penembakan Brigadir J. Tersangka ketiga, KM turut membantu dan menyaksikan. Lalu, Ferdy Sambo, menyuruh melakukan dan menskenario peristiwa seolah-olah terjadi peristiwa tembak-menembak. Irjen Ferdy Sambo, Brigadir RR, dan KM dijerat Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP, serta diancam hukuman mati, penjara seumur hidup, dan selama-lamanya penjara 20 tahun. Untuk Bharada E dijerat Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan 56 KUHP. Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan tidak ditemukan fakta peristiwa tembak menembak seperti yang dilaporkan. Ia mengatakan untuk membuat seolah-olah telah terjadi tembak menembak, FS melakukan penembakan dengan senjata milik Brigadir J ke dinding berkali-kali untuk membuat kesan seolah-olah terjadi tembak menembak. “Untuk membuat seolah olah terjadi tembak menembak saudara FS melalukan penembakan dengan senjata milik J ke dinding berkali-kali membuat kesan seolah terjadi tembak menembak,” kata Sigit.