Sekitar 60 Persen Pemilih Katolik Berlabuh di Prabowo-Gibran

La Aswan
La Aswan
Diperbarui 21 Februari 2024 20:21 WIB
Konsolidasi Relawan Bang Ara dan Stefanus Gusma di GOR Rawa Badak, Kecamatan Tanjung Priuk, Jakarta Utara, Sabtu (3/2) (Foto: Dok MI)
Konsolidasi Relawan Bang Ara dan Stefanus Gusma di GOR Rawa Badak, Kecamatan Tanjung Priuk, Jakarta Utara, Sabtu (3/2) (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - Hasil survei pascapencoblosan (exit poll) menunjukkan pasangan nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka unggul di mayoritas segmen pemilih. Prabowo-Gibran unggul di pemilih berdasar jenis kelamin, usia/generasi, pendidikan, status sosial ekonomi dan agama.

Pemilih berdasar usia misalnya, Prabowo-Gibran unggul di segmen pemilih Gen Z, Gen Y Muda, Gen Y Madya, Gen X hingga baby boomers.

Tak hanya itu, Prabowo-Gibran juga unggul di segmen pemilih Islam NU, Islam (selain NU dan Muhammadiyah), Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Agama/kepercayaan lain. Keunggulan terbesar pasangan itu ada pada segmen pemilih beragama katolik dengan persentase diatas 50 persen.

"Di data exit poll total keseluruhan Katolik dan Protestan 59 persen sekian, jadi mungkin ini rendahnya bisa juga 60 persen. Tapi kita pisahkan ya, mungkin Katolik itu sekitar segitu, 60 persen ya. Jadi sebenarnya memang cukup signifikan," ungkap Ikrama Masloman, Peneliti Senior LSI (Lingkaran Survei Indonesia Denny JA) kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (21/2).

https://monitorindonesia.com/storage/media/photos/250cfb35-9e45-420f-9dd8-5a148f4192d4.jpg

Foto: Ikrama Masloman, Peneliti Senior LSI (Lingkaran Survei Indonesia Denny JA)

Sedangkan untuk pemilih Islam, lanjut dia, ada 49 persen untuk pasangan capres-cawapres, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. "Kalau kita lihat di hasil exit pool artinya pemilih Katolik ini secara persentase paling besar sebenarnya sebanyak 60 persen. Jadi ini kalau bisa dibilang, bahwa mayoritas pemilih katolik itu berlabuh di Prabowo-Gibran," jelas Ikram.

Berkaca pada pemilu-pemilu sebelumnya,  Katolik lebih banyak memilih paslon capres dari PDIP.  Namun, pada Pilpres 2024 bergeser secara drastis.

"Saya enggak tahu kalau soal cara sikap-sikap politik di gereja ya terkait Pilpres, walaupun memang banyak diskusi-diskusi yang kemudian saya lihat, misalnya ada organisasi-organisasi itu juga sudah mempunyai pilihan. Namun ketika menyampaikan ini ke umat ya, itu kan juga pastikan gereja mengambil sikap-sikap agar tidak ikut keterbelahan," jelasnya.

Tapi sebenarnya, kata dia, seperti ada hembusan angin yang tentunya pasti dirasakan oleh umat juga. Walaupun tidak secara spesifik, bahkan kalau dilihat dari sepak terjang tokoh muda Katolik, Stefanus Gusma yang secara hierakis selain memimpin organisasi, dia juga memimpin organisasi di katolik. 

Bahkan, lanjut Ikram, Gusma melakukan konsolidasi, bahkan di tingkat pemuda, ini menjadi daya tarik. Karena sebagai angkatan muda di Katolik ditambah dengan fakta pemilih mayoritas di segmen usia ini,  60 persen itu di pemilih kalangan gen Z dan gen W.

"Ini mereka pendukung Prabowo-Gibran. Jadi memang sangat efektif, saya pikir upaya-upaya itu dan ini tergambarkan dari hasilnya, karena pasar realitas politiknya 60 persen, pemilih katolik kan berlabuh di Probowo-Gibran," ungkapnya.

Menurut Ikram hal ini, hanya sebuah alasan saja sebenarnya. " Walaupun alasannya nanti pasti secara eksplisit pastikan ada konsolidasi kan di tingkat struktural organisasi salah satunya Gusma tadi di 02. Walaupun sebenarnya terpecah belah, di 01 (Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar) ada Tom Lembong, dia kan Katolik ya," katanya.

Kemudian di kubu Ganjar Pranowo-Mahfud Md, 03, ada Yunarto, ada Hasto dan lainnya. "Kalau di 02 ini kan termasuk ada Stefanus, Budi  Agustiyo inikan konsultannya Prabowo," tuturnya.

Selain lain itu, ia mengaku bahwa ada juga konsolidasi entitas-entitas di Katolik, sehingga dalam politik tidak bisa hanya melihat bahwa alasannya tunggal walaupun hari ini yang selama terasosiasi ke partai-partai atau tokoh-tokoh nasionalnya.

"Yang kita lihat itu kan PDIP ada Hasto, memang secara partai mungkin mereka bisa mendukung PDIP atau partai berhaluan nasional lain, secara pilpres ya fakta preferensinya ke Prabowo-Gibran dan saya pikir tidak bisa dilepaskan juga dari isu nasional. Termasuk kepuasan terhadap pemerintah," tambah Ikram lagi.

Jadi selain tingkat kepuasan kepada pemerintah, menurut dia, dari ketiga pasangan calon itu, yang berada di titik aman adalah Prabowo-Gibran. "Tentu orang melihat konfigurasi ketiga calon yang mungkin paling aman  ya untuk akomodir kepetingan-kepentingan khususnya kelompok minoritas agama ya, seperti Katolik dilihat mungkin titik amannya itu di Prabowo-Gibran," katanya. 

"Kalau saya itu, faktor-faktor selain ada aktifasi politik yang dilakukan oleh organisasi-organisasi Katolik secara terbuka ataupun secara tersirat atau halus kemudian, saya yakin pasti ada aktifasi itu. Karena kalau tidak nggak mungkin angkanya sangat siginifikan," imbuh Ikram.