Kasus Dugaan Kekerasan Seksual di Cikarang, Azas Tigor: Perlu Mediasi dan Therapy Pemulihan

Aldiano Rifki
Aldiano Rifki
Diperbarui 22 Februari 2023 12:51 WIB
Jakarta, MI - Praktisi hukum, Azas Tigor Nainggolan mengungkapkan, bahwa dalam sistim peradilan pidana anak wajib dilakukan upaya diversi dengan tujuan untuk perdamaian antara korban dan anak. Kemudian, menyelesaikan perkara anak di luar proses peradilan, menghindari anak dari perampasan kemerdekaan dan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi, serta menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak. Demikian disampaikan Azas sapaan akrabnya merespons kasus seorang anak perempuan (9) di Cikarang, Kabupaten Bekasi yang menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh temannya sendiri, perempuan (8). "Harus ada perdamaian (mediasi) secara tertulis di atas materai antara kedua belah pihak, dan perdamaian itu adalah bagian dari proses hukum," kata Azas, Rabu (22/2). Untuk kedua anak tersebut, Azas Tigor mengingatkan, harus diberi pendampingan untuk therapy pemulihan atas peristiwa yang telah terjadi. Diketahui, peristiwa tersebut telah dilaporkan ke Polres Metro Bekasi pada 15 Januari 2023 yang lalu dan ditangani Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA). "Kami hanya minta keadilan untuk anak kami, kenapa begitu susahnya cari keadilan untuk orang kecil seperti kami, bagaimana nasib anak kami?" kata DMS, orang tua korban, Selasa (21/2) kemarin. "Ketika akan berangkat mengaji mereka mandi bersama di rumah saya, anak saya kemaluannya dimasukkan selang air sampai hilang selaput dara dan terdapat luka robek dikemaluannya dan mengalami infeksi saluran kencingnya," tambah DMS. Dijelaskannya, menurut sang anak, ia mau dimasukkan selang karena ada ancaman dari anak tersebut kalau tidak mau tidak akan ditemenin. Ternyata anak trsebut sudah mengerti hal tersebut karena suka mlihat film dewasa. "Hal itu diakui oleh ibunya sendiri yang pernah memergoki anaknya nonton film seperti itu. Pada awalnya, orang tua si anak tersebut mau mengobati anak saya bahkan sempat 2 kali mediasi," kata Ibu korban. "Saya hanya minta anak saya diobati. Tapi orang tuanya malah menantang saya untuk melakukan visum, karena ia kukuh anaknya tidak bersalah. Padahal di awal mediasi anaknya sudah mengakui," kata DMS. Ditambahkannya, karena orangtuanya tahu anak di bawah umur tidak akan ada hukuman itulah kenapa ia kukuh anaknya tidak bersalah. Atas peristiwa itu, PPA sudah 2 kali melakukan mediasi namun gagal, karena pihak orang tua pelaku merasa anaknya tidak bersalah. Padahal dari hasil psikologi sudah jelas dikatakan anaknya bermasalah. "PPA sudah tidak akan mendampingi saya lagi, karena sudah mencoba beberapa kalipun tetap gagal mediasi. Dan selanjutnya diserahkan kepada proses hukum, tapi disayangkan dari pihak Polres Metro Bekasi sampai saat ini belum ada pemanggilan ke pihak mereka," kata DMS. Dia mengatakan bahwa dirinya sudah di BAP, bahkan saksi pun sudah dipanggil. Dirinya hanya minta keadilan untuk anaknya. Terlebih pihak orang tua pelaku menantang untuk dibawa ke jalur hukum.